Interaksi Lintas Budaya dan Keyakinan Dorong Mahasiswa Terbuka pada Keberagaman

  • 15 Sep 2026 07:49 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Interaksi dengan mahasiswa dari latar belakang berbeda, dinilai menjadi hal yang penting untuk memperluas wawasan dan cara pandang. Perjumpaan lintas keyakinan dan budaya, juga dapat membantu mahasiswa lebih terbiasa menghadapi keberagaman.

Menteri Koordinator Dinamisasi Kampus BEM KM Universitas Negeri Semarang(Unnes) 2026, Wisnu Jati Priyantoro menjelaskan, homogenitas dalam pergaulan memiliki dampak tersendiri. Seseorang dapat kurang terbiasa dalam menghadapi perbedaan, bahkan lebih mudah membangun prasangka terhadap kelompok lain.

“Bahkan kita bisa memiliki pemahaman yang keliru, karena hanya melihat kelompok lain dari informasi atau stereotip yang kita dapatkan. Perjumpaan dengan orang yang berbeda, sangat penting untuk memperluas cara berpikir dan sudut pandang kita terhadap orang lain,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 8 September 2026.

Membiasakan terhadap adanya keberagaman dan perbedaan disadarinya cukup penting, lantaran konsep manusia sebagai makhluk sosial. Dengan mengenal dan membangun ruang perjumpaan lintas keyakinan, akan semakin membuat terbukanya pandangan terhadap hal tersebut.

“Kita bisa tahu oh ternyata agama ini melakukan hal ini, keyakinan lain melakukan hal itu. Atau mungkin budayanya seperti itu, nah itu kan malah memperluas cara berpikir kita,” ucap Wisnu.

Membangun ruang perjumpaan dan kebersamaan juga dilakukan Wisnu, bersama dengan Bidang Dinamisasi Kampus BEM KM Unnes. Beberapa di antaranya adalah melakukan dialog lintas agama, bahkan juga melakukan dialog kebudayaan untuk membuka ruang tersebut.

“Karena menurut aku kegiatan-kegiatan seperti ini, mahasiswa tuh bisa saling interaksi dengan berbagai macam kepercayaan dan kebudayaan. Juga dengan adanya hal itu, bisa benar-benar membuka wawasan kita ternyata ada budaya seperti ini lho,” ujarnya.

Selain itu, penerapan prinsip moderasi beragama juga dapat diamalkan dan dilakukan dalam kegiatan sehari-hari di lingkup kampus. Namun menurutnya, dalam melakukannya harus memperhatikan apakah itu mengkritik gagasan atau menyerang secara pribadi.

“Ketika ada perbedaan pendapat, kita perlu mendengarkan alasan orang lain serta menyampaikan argumen dengan baik dan mencari titik temu. Kita tidak harus selalu sepakat, tapi perbedaan tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang lain,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....