Bank Indonesia Dorong Pertanian Cerdas Iklim dengan Biochar

  • 09 Feb 2026 11:35 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Bank Indonesia meluncurkan pedoman model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis teknologi pertanian cerdas iklim dengan inovasi biochar di Semarang, Senin, 9 Februari 2026. Langkah ini difokuskan untuk meningkatkan produktivitas padi Jawa Tengah yang terdampak perubahan iklim, rob, dan penyusutan lahan di Pantura.

Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung, menyebut perubahan iklim kini langsung dirasakan petani melalui cuaca ekstrem dan risiko bencana. Kondisi tersebut dinilai ikut menahan laju produksi padi di daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional.

Teknologi pertanian cerdas iklim dipilih karena mampu menggabungkan peningkatan hasil panen, adaptasi iklim, dan penurunan emisi secara bersamaan. Tujuannya tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Dijelaskannya, biochar menjadi inovasi kunci karena terbukti memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan menekan emisi gas rumah kaca. Penggunaannya juga membuat kebutuhan pupuk kimia berkurang dari musim ke musim sehingga biaya produksi lebih hemat.

Menurut Kurniawan, biochar dapat diproduksi mandiri oleh kelompok tani dari limbah pertanian seperti sekam padi dan bonggol jagung. Model ini membuat pertanian lebih efisien, bernilai tambah, dan ramah lingkungan di tingkat petani.

Sejak tahun lalu, Bank Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan perguruan tinggi telah melakukan uji coba model bisnis biochar. Tahun ini, penerapan diperluas ke sejumlah daerah untuk menguji efektivitas pada berbagai komoditas.

"Ini sudah digunakan juga pilot tahun lalu di Malang, kami lakukan untuk cabai, untuk jagung, bawang. Ternyata limbah nasi putih setelah dipirolisis bisa menjadi semacam pengganti pupuk," ujarnya.

Dijelaskannya, keterlibatan Bank Indonesia didorong oleh kepentingan untuk menjaga stabilitas harga pangan yang kerap bergejolak. Untuk mendukungnya, Bank Indonesia menyiapkan insentif kebijakan agar perbankan lebih mudah menyalurkan kredit ke sektor pertanian berkelanjutan.

Hal senada disampaikan oleh Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kus Prisetiahadi. Ia menilai peluncuran pedoman ini sebagai langkah menghadapi tantangan perubahan iklim dan penyusutan lahan.

Berbagai teknologi hijau seperti biosalin, biosilus, dan kini biochar dinilai penting untuk memperluas kembali lahan produktif. "Semoga langkah yang kita mulai di hari ini di Jawa Tengah dapat memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan bagi petani," ucapnya.

Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Andi Riena Sari, menegaskan ketahanan pangan berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi. Komoditas pangan yang berfluktuasi harga sangat memengaruhi inflasi daerah.

Buku pedoman yang disusun bersama pemerintah dan akademisi ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi kelompok tani dan usaha pertanian. Seluruh pihak diharapkan bersinergi agar teknologi ini benar-benar diterapkan di lapangan sehingga pertanian lebih tangguh menghadapi iklim, produktif, dan berkelanjutan.

"Pemanfaatan biochar, bersama inovasi lain seperti Biosalin dan Biosilus SP, mengarah pada teknologi hijau. Kita harapkan dapat menjaga keberlanjutan lingkungan bagi anak cucu kita ke depan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....