Islam Ajarkan Utamakan Agama dan Akhlak dalam Memilih Pasangan

  • 03 Okt 2026 17:23 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Memilih pasangan hidup dalam Islam tidak semata-mata soal menikahi orang yang dicintai atau orang yang mencintai. Agama dan akhlak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pasangan untuk membangun rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan Fahad Assadullah dalam program Mutiara Pagi melalui dialog interaktif Pro 1 RRI Sampang. Dalam kajian bertema “Menikahi Orang yang Dicintai atau Mencintai Orang yang Dinikahi”, Fahad menjelaskan bahwa cinta merupakan bagian dari fitrah manusia dan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih pasangan.

Namun, ia menegaskan bahwa cinta saja tidak cukup menjadi dasar dalam membangun pernikahan.

“Cinta saja tidak cukup untuk menjadi dasar pernikahan. Kehidupan rumah tangga membutuhkan kesetiaan, kesabaran, saling menghormati, serta komitmen untuk menjalankan kewajiban sebagai suami dan istri,” ujar Fahad.

Menurutnya, Islam memberikan perhatian besar terhadap agama dan akhlak calon pasangan. Ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa seseorang biasanya dinikahi karena harta, keturunan, kecantikan atau ketampanan, serta agama.

Dalam hadis tersebut, umat Islam dianjurkan mengutamakan pasangan yang memiliki agama.

“Jadi bukan hanya melihat siapa yang kita cintai atau siapa yang mencintai kita. Yang perlu dilihat adalah agama, akhlak, tanggung jawab dan kesungguhan untuk membangun rumah tangga,” jelasnya.

Fahad menambahkan, rasa cinta juga dapat tumbuh setelah pernikahan. Hubungan suami istri dapat semakin kuat ketika keduanya mampu menjalankan hak dan kewajiban, saling menghormati, membantu dalam kebaikan, serta menghadapi persoalan rumah tangga dengan kesabaran.

Karena itu, menurutnya, cinta dalam rumah tangga tidak hanya diwujudkan melalui perasaan, tetapi juga melalui tindakan dan tanggung jawab.

“Ketika suami dan istri saling menjaga, saling menghormati dan bersama-sama menjalankan kewajiban, cinta itu bisa tumbuh dan semakin kuat,” katanya.

Ia berharap, masyarakat yang sedang mempersiapkan pernikahan tidak hanya menjadikan perasaan sebagai dasar menentukan pasangan, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan agama, akhlak dan tanggung jawab.

Dengan pertimbangan tersebut, pernikahan diharapkan tidak sekadar menjadi ikatan karena cinta, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....