Hikmah Maulid Nabi: Teladan Utama dan Refleksi Kasih Sayang

  • 17 Sep 2026 07:25 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak boleh hanya berhenti pada acara seremonial, tetapi harus menjadi sarana untuk mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
  • Ustadz Fauzan menekankan bahwa implementasi Maulid harus mencakup semua aspek kehidupan: ibadah, berkeluarga, bermasyarakat, dan berdakwah.
  • Al-Qur'an tidak menetapkan satu bentuk khusus perayaan Maulid, sehingga perbedaan pendapat ulama tentang bentuk peringatan dapat dipisahkan dari keutamaan dan kecintaan kepada Nabi.

RRI.CO.ID, Sampang - Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak hanya berhenti pada serangkaian acara seremonial semata. Menurut Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karang Penang, Ustadz Fauzan, menyampaikan bahwa, hakikat dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW adalah sebagai sarana untuk semakin mengenal, mencintai, serta meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam beribadah, berkeluarga, bermasyarakat, maupun berdakwah.

“Beliau menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak menetapkan satu bentuk khusus perayaan, sehingga pembahasan mengenai Maulid sebaiknya memisahkan antara dalil keutamaan serta kecintaan kepada Nabi dengan perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait bentuk peringatannya,” jelasnya dalam Mutiara Pagi, Kamis, 17 September 2026.

Lebih lanjut, Ustadz Fauzan menyoroti peran Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik (uswatun hasanah) dan rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT. Kehadiran serta kerasulan Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat luar biasa yang membawa umat manusia dari masa kegelapan menuju petunjuk Tauhid.

“Salah satu hikmah utama dari peringatan Maulid adalah untuk memperbarui rasa syukur atas utusan Allah yang telah mengajarkan Al-Qur'an, mensucikan jiwa, serta membimbing manusia keluar dari kesesatan menuju jalan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Kemudian ia menerangkan hadis riwayat Abu Qatadah Al-Ansari mengenai puasa hari Senin yang menunjukkan bahwa hari kelahiran Nabi memang memiliki makna khusus hingga dikaitkan dengan ibadah. Namun, beliau menggarisbawahi pentingnya menyampaikan dalil secara proporsional, karena hadis tersebut secara eksplisit berbicara tentang puasa sunnah mingguan, bukan penetapan bentuk perayaan tahunan tertentu.

“Peringatan Maulid juga diajarkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang, kemauan memaafkan, pertolongan kepada kaum lemah, dan penghormatan terhadap sesama, bukan untuk menyebarkan kebencian atau kesombongan,” tutupnya, mengakhiri.

Ustadz Fauzan mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai ajang perenungan dan introspeksi diri mengenai sejauh mana rasa cinta kepada Rasulullah SAW telah diwujudkan.

Rasa cinta tersebut tidak cukup sekadar diucapkan dengan kata-kata, melainkan harus dibuktikan melalui tindakan nyata seperti memperbanyak salawat, mempelajari sirah nabawiyah, serta mengamalkan sunnah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh beliau. Ia berharap pesan-pesan hikmah ini dapat dipetik manfaatnya serta diamalkan dengan baik oleh seluruh masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....