Memaknai Hari Batik dengan Memahami Makna Kain Tulis
- 02 Okt 2026 11:08 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Hari Batik Nasional pada 2 Oktober harus dimaknai sebagai bentuk komitmen mendalam dalam menjaga warisan leluhur, bukan hanya sebagai momentum fashion.
- Batik tulis Madura memiliki keunggulan otentik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi mesin cetak pabrikan maupun batik printing.
- Muhammad Aufal Fresky, pelaku usaha batik tulis Madura, menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai warisan budaya batik dalam perayaan Hari Batik Nasional.
RRI.CO.ID, Pamekasan - Peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober bukan sekadar momentum mempercantik diri dengan mengenakan busana khas Nusantara. Pelaku usaha Batik Tulis Madura, Muhammad Aufal Fresky, menegaskan bahwa momentum ini harus dimaknai secara mendalam sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga warisan leluhur.
“Keberadaan batik tulis memiliki keunggulan otentik yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin cetak pabrikan maupun batik printing,” jelasnya dalam program Sampang Menyapa, Jumat 2 Oktober 2026.
Aufal sapaan akrabnya menjelaskan bahwa selembar kain batik tulis menyimpan kombinasi nilai estetika, sejarah, dan filosofi hidup yang tinggi. Salah satu contohnya terlihat pada motif klasik Beras Tumpah khas Desa Klampar, Pamekasan, yang menggambarkan harapan mendalam para perajin akan kelimpahan pangan dan kesejahteraan hidup.
“Guratan canting manual yang melahirkan presisi alami serta ketidaksempurnaan yang khas justru menjadi identitas pembeda utama antara kain batik tulis otentik dengan batik buatan mesin,” ucapnya, menambahkan.
Guna mempertahankan keberlanjutan bisnis di tengah gempuran percepatan tren fashion, pemilik usaha Aneka Batik ini terus berinovasi mengikuti pergeseran selera pasar. Selain mempertahankan pakem motif warisan keluarga secara turun-temurun, ia juga mulai memproduksi variasi motif kontemporer dengan pilihan warna yang lebih cerah dan segar.
“Langkah strategis ini terbukti ampuh menarik minat generasi Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha agar tetap bangga mengenakan batik dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Untuk membangun apresiasi konsumen terhadap nilai karya seni, Aufal secara konsisten memberikan edukasi langsung mengenai rumitnya proses pembuatan batik tulis.
Melalui pendekatan wisata edukasi serta pemanfaatan media sosial seperti TikTok dan Instagram, ia memperlihatkan seluruh tahapan produksi yang memakan waktu mingguan hingga bulanan. Edukasi tersebut terbukti efektif mengubah persepsi masyarakat awam hingga terdorong untuk membeli dan menghargai jerih payah para perajin lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....