Kemarau Panjang dan Harapan Air Bersih Warga Sampang
- 17 Sep 2026 19:16 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Di tengah terik matahari dan musim kemarau yang panjang, kedatangan air bersih menjadi sesuatu yang begitu berarti bagi warga Dusun Semampir, Desa Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.
Hari itu, bukan sekadar kendaraan pembawa air yang datang. Ada harapan yang ikut mengalir bersama ribuan liter air untuk warga yang membutuhkan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah tersebut.
Sebanyak 12 ribu liter air bersih disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga. Bantuan itu dilengkapi tiga tandon bulat, dua tandon lipat, dan 150 jeriken agar air yang datang dapat disimpan dan dimanfaatkan secara bertahap.
Tak hanya air. Warga juga menerima bantuan sosial berupa paket sembako. Bantuan tersebut menyasar 4.245 jiwa atau 951 kepala keluarga sebagai bagian dari intervensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi dampak kekeringan.
Khofifah mengatakan kehadiran Pemprov Jatim merupakan bentuk dukungan terhadap langkah pemerintah kabupaten dan kota yang telah menetapkan status kedaruratan kekeringan.
"Jadi kehadiran Pemprov ini sifatnya mensubstitusi, komplementaritas, menguatkan, melapisi dari yang sudah dilakukan oleh kabupaten kota," kata Khofifah.
Bagi warga yang berada di wilayah kering, air bukan sekadar kebutuhan pelengkap. Air menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, minum, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, bantuan air bersih menjadi solusi yang langsung dapat dirasakan. Khofifah mengatakan distribusi air di sejumlah titik juga biasanya disertai bantuan pangan.
"Setiap titik yang saya datangi biasanya selain ada support air bersih juga ada sembako, makanya kita juga berbagi sembako," ujarnya.
Namun, droping air hanya menjadi salah satu cara menghadapi persoalan kekeringan. Pemerintah juga mulai memikirkan sumber air yang bisa dimanfaatkan dalam jangka lebih panjang, termasuk melalui pencarian titik potensial untuk sumur bor.
Khofifah menyebut upaya menemukan sumber air membutuhkan kajian dan pengeboran pada kedalaman tertentu. Bahkan, menurutnya, kondisi geologi di setiap wilayah tidak selalu mudah.
Ia mencontohkan pengeboran di salah satu wilayah Pasuruan yang telah mencapai kedalaman 200 meter, tetapi masih menemukan batuan. Sebanyak 19 mata bor disebut sampai mengalami kerusakan.
"Artinya betapa memang di titik tertentu itu relatif kita butuh ikhtiar untuk bisa mendapatkan sumber air," ungkapnya.
Jika ditemukan sumber air yang cukup di lokasi tertentu, distribusi air ke wilayah yang membutuhkan juga bisa dilakukan. Khofifah menyebut pemerintah pernah menarik air hingga jarak 17 kilometer.
Sementara untuk pembangunan embung maupun waduk, menurut Khofifah, perlu dilakukan assessment terlebih dahulu untuk memastikan potensi dan lokasi yang tepat.
"Kalau embung nanti dulu kita melihat potensi-potensi dan kemudian di titik mana embung atau waduk, itu kan harus dilakukan assessment," jelasnya.
Di Dusun Semampir, 12 ribu liter air menjadi bantuan yang nyata bagi warga yang sedang menghadapi kemarau. Di tengah tanah yang mengering dan sumber air yang terbatas, kedatangan air bersih menghadirkan satu hal sederhana namun berarti: harapan untuk tetap bertahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....