Sering Impulsif karena Tren? Strategi Jinakkan FOMO di Era Digital

  • 04 Sep 2026 22:30 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • FOMO (Fear of Missing Out) menjadi pemicu utama peningkatan perilaku konsumtif masyarakat Indonesia di era digital, khususnya dalam aktivitas belanja online.
  • Kemudahan akses e-commerce dan layanan dompet digital mendorong masyarakat membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi untuk mencapai validasi sosial dan mengikuti tren.
  • Jika tidak ditangani dengan bijak, perilaku konsumtif yang dipicu FOMO dapat merusak stabilitas finansial jangka panjang dan menyebabkan stres keuangan akibat pengeluaran yang tidak terkontrol.

RRI.CO.ID, Pamekasan - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) kini menjadi pemicu utama meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat di era digital, khususnya dalam hal belanja online. Kemudahan akses e-commerce dan dompet digital sering kali membuat seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan demi validasi sosial atau sekadar tidak ingin tertinggal tren.

Jika tidak disikapi dengan bijak, kebiasaan ini dapat merusak stabilitas finansial jangka panjang dan memicu stres keuangan akibat pengeluaran yang tidak terkontrol.Menanggapi fenomena ini,

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Ustman, menegaskan pentingnya memiliki literasi keuangan yang kuat sebelum memutuskan untuk bertransaksi secara digital.

"strategi utama untuk menangkal jebakan FOMO adalah dengan menerapkan jeda waktu (cooling-off period) selama 24 hingga 48 jam sebelum melakukan checkout. Langkah sederhana ini sangat efektif untuk membedakan antara keinginan sesaat yang dipicu oleh emosi dan kebutuhan riil yang mendesak," ujarnya di sela sela dialog program Ekonomi Digital RRI Sampang.Jumat,4 September 2026.

Selain menahan diri, Dr. Ustman juga menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi digital secara terbalik, yaitu dengan menggunakannya sebagai alat pengontrol keuangan.

Alokasi anggaran yang ketat menggunakan metode budgeting digital, seperti memisahkan dana belanja ke dalam pos khusus atau rekening terpisah, dapat menjadi benteng pertahanan dari pengeluaran impulsif. Dengan membatasi saldo di dompet digital sejak awal bulan, seseorang dipaksa untuk lebih selektif dan disiplin dalam membelanjakan uangnya.

Dr. Ustman mengingatkan bahwa kunci utama dari pengelolaan keuangan di era modern bukanlah menghindari teknologi belanja online, melainkan mengendalikan diri dari paparan arus informasi media sosial.

Beliau mengimbau masyarakat untuk mulai membangun kebiasaan berinvestasi atau menabung secara otomatis begitu menerima pendapatan. Dengan mengalihkan fokus dari konsumsi jangka pendek ke tujuan finansial masa depan, masyarakat dapat menikmati kemudahan era digital tanpa harus terjebak dalam lingkaran kecemasan FOMO.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....