Inovasi dan Strategi Pelestarian Musik Saronen di Pamekasan
- 02 Sep 2026 20:57 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Kolaborasi musik tradisional Saronen dengan genre modern seperti jazz, pop, dan rock dinilai sebagai langkah potensial untuk menarik perhatian generasi muda.
- Ketua Dewan Kesenian Pamekasan Arief Wibisono meyakini bahwa akulturasi musik kontemporer dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan warisan budaya leluhur kepada Gen Z.
- Inovasi musik harus tetap menjaga pakem dasar dan karakter suara asli Saronen agar pertunjukan original dan eksplorasi baru dapat berjalan berdampingan sesuai ruang penampilannya.
RRI.CO.ID, Pamekasan - Akulturasi antara musik tradisional Saronen dengan genre modern seperti jazz, pop, hingga rock dinilai sebagai langkah potensial untuk merangkul generasi muda. Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, Arief Wibisono, berpendapat bahwa kolaborasi musik kontemporer sangat lumrah terjadi dan dapat menjadi media efektif agar Gen Z mengenal warisan budaya leluhurnya.
Meski begitu, inovasi ini harus tetap menjaga pakem dasar serta karakter suara asli Saronen, sehingga eksistensi pertunjukan original maupun bentuk eksplorasi baru dapat berjalan berdampingan sesuai ruang penampilannya.
Upaya menjaga kualitas dan marwah seni pertunjukan Saronen membutuhkan standarisasi serta sinergi lintas generasi. Keterlibatan para sesepuh atau maestro lokal tetap menjadi kunci penting untuk mendampingi seniman muda dalam mempertahankan ruh keaslian Saronen.
Di samping itu, penguatan regulasi dan pembenahan ekosistem seni secara menyeluruh memerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah agar kesenian ini memiliki dasar pembinaan yang berkelanjutan dan tidak terancam punah.
Bagi wisatawan maupun peneliti luar daerah yang ingin mempelajari Saronen secara mendalam, Pamekasan memiliki beberapa wadah kesenian yang direkomendasikan. Salah satu tempat rujukan utama yang sering tampil di berbagai ajang nasional adalah Sanggar Makan Hati.
“Sanggar ini dinilai potensial karena telah berhasil mencetak generasi muda yang mahir meniup Saronen serta terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat kebudayaan musik tradisional Madura,” Ucap Arief, Rabu, 2 September 2026.
Keberlanjutan Saronen di masa depan sangat bergantung pada rasa bangga dan kepedulian masyarakat, khususnya para pemuda, untuk terus merawat kearifan lokal tanpa rasa gengsi. Harapan besar tertuju pada kolaborasi yang erat antara seniman, masyarakat, dan pemerintah dalam membersamai setiap langkah pelestarian budaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....