Tantangan Regenerasi dan Eksistensi Saronen di Pamekasan

  • 02 Sep 2026 20:53 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Seni tradisional Saronen di Pamekasan menghadapi tantangan kompleks mencakup keterbatasan panggung pertunjukan dan minimnya regenerasi seniman muda.
  • Mayoritas maestro peniup Saronen yang masih aktif saat ini sudah berusia lanjut, menciptakan kekhawatiran akan kelancaran regenerasi kesenian.
  • Penguasaan alat musik Saronen memerlukan teknik pernapasan tinggi dan pemahaman mendalam tentang suluk serta akar budaya, sehingga dibutuhkan pembinaan generasi penerus yang intensif untuk mencegah kepunahan kesenian ini.

RRI.CO.ID, Pamekasan - Keberadaan seni tradisional Saronen di Kabupaten Pamekasan saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, mulai dari keterbatasan panggung pertunjukan hingga minimnya regenerasi seniman muda. Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, Arief Wibisono, mengungkapkan bahwa sebagian besar maestro peniup Saronen yang ada saat ini sudah berusia lanjut.

Penguasaan alat musik ini diakui sangat sulit karena tidak hanya membutuhkan teknik pernapasan tinggi, tetapi juga kedalaman rasa untuk menjiwai suluk dan akar budayanya. Tanpa proses pembinaan generasi penerus yang intensif, kesenian khas ini dikhawatirkan terancam punah di masa depan.

Selain kendala internal berupa rumitnya teknik permainan, pergeseran minat generasi muda akibat gempuran musik modern turut memengaruhi eksistensi Saronen. Saat ini, minat pemuda lokal dalam mempelajari Saronen masih terbilang minim dan umumnya baru sebatas bergabung dalam komunitas musik tradisional umum.

“Kondisi ini diperberat dengan belum adanya pengrajin lokal pembuat alat musik Saronen di wilayah Pamekasan, sehingga kebutuhan instrumen masih bergantung pada pusat pengrajin di kabupaten tetangga, seperti daerah Saronggi, Sumenep,” jelasnya, Rabu, 2 September 2026.

Guna menyiasati keterbatasan sarana pertunjukan dan belum optimalnya fasilitas markas dewan kesenian, pihak pengurus mengambil langkah proaktif dengan mendatangi komunitas-komunitas seni secara langsung. Dewan Kesenian Pamekasan berupaya merawat semangat para pelaku seni tradisi melalui pemanfaatan pinjaman instrumen musik tradisional dari pihak kebudayaan.

“Pendekatan jemput bola ini menjadi solusi sementara agar para seniman tetap memiliki ruang berkarya dan menjaga denyut kesenian daerah di tengah berbagai keterbatasan,” tambahnya.

Sebagai langkah strategis ke depan, Pamekasan sedang dalam proses mentransformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan agar memiliki cakupan kerja yang lebih luas. Melalui perubahan kelembagaan ini, pemerintah daerah dan pengurus berharap dapat membuka akses yang lebih memadai, merangkul para seniman tradisi secara inklusif, serta menyediakan panggung pentas yang layak di tingkat lokal maupun nasional. Harapannya, penguatan kelembagaan ini mampu melestarikan Saronen sebagai warisan budaya Madura yang tetap berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....