Tantangan Mengajar Bahasa Indonesia di Era Digital

  • 23 Agt 2026 10:09 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Pembelajaran bahasa Indonesia modern memerlukan adaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengorbankan esensi nilai-nilai budaya bangsa.
  • Guru bahasa Indonesia SMPN 1 Sampang mengidentifikasi tantangan utama dalam menjaga minat baca dan ketertarikan siswa terhadap sastra klasik.
  • Media sosial yang serba instan menjadi hambatan signifikan dalam upaya melestarikan apresiasi sastra tradisional di kalangan pelajar.

RRI.CO.ID,Sampang-Pelajaran bahasa Indonesia di era modern harus mampu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Juhairiyah, guru bahasa Indonesia SMPN 1 Sampang menyatakan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga minat baca dan ketertarikan siswa terhadap sastra klasik di tengah gempuran media sosial yang serba instan.

Menurutnya, pendekatan pembelajaran tidak bisa lagi menggunakan metode ceramah konvensional, melainkan harus beralih ke strategi yang lebih interaktif dan relevan dengan dunia remaja masa kini.

Namun, digitalisasi ini bukan tanpa hambatan bagi para pendidik di SMPN 1 Sampang. Juhairiyah menyoroti fenomena maraknya penggunaan bahasa gaul dan slang internet yang sering kali terbawa oleh siswa ke dalam tugas-tugas formal sekolah.

"Ini menjadi tugas tambahan bagi guru untuk terus mengedukasi siswa mengenai konsep menempatkan bahasa secara tepat, yaitu kapan harus menggunakan ragam bahasa santai dan kapan wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan formal" ujarnya pada program Ngobrol Komunitas ( Ngobras) RRI Sampang, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Selain kemampuan tata bahasa, fokus pengajaran bahasa Indonesia modern di SMPN 1 Sampang juga diarahkan pada penguatan literasi kritis. Juhairiyah menekankan pentingnya kemampuan menyaring informasi di tengah derasnya arus berita palsu atau hoaks di dunia maya. Lewat pelajaran bahasa Indonesia, siswa dilatih untuk membaca secara mendalam, mengecek fakta, dan memahami konteks sebuah tulisan agar mereka tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoax.

Melalui transformasi metode pembelajaran ini, Ibu Juhairiyah berharap bahasa Indonesia tidak dipandang sebagai mata pelajaran yang membosankan, melainkan sebagai alat komunikasi yang dinamis dan membanggakan dan menciptakan generasi muda yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga tetap mencintai dan melestarikan identitas nasional melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....