Kekeringan Meluas, BPBD Prioritaskan 12 Kecamatan Kritis di Sampang

  • 27 Jul 2026 21:09 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • BPBD Kabupaten Sampang menetapkan 12 kecamatan sebagai wilayah dengan tingkat kekeringan paling kritis pada musim kemarau 2026.
  • BPBD telah memetakan 94 desa terdampak yang tersebar di sejumlah wilayah sebagai dasar untuk penanganan krisis air bersih.
  • Penetapan wilayah kekeringan kritis ini menjadi acuan untuk penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.

RRI.CO.ID, Sampang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang menetapkan 12 kecamatan sebagai wilayah dengan tingkat kekeringan paling kritis pada musim kemarau 2026. Penetapan itu dilakukan setelah BPBD memetakan 94 desa terdampak yang tersebar di sejumlah wilayah sebagai dasar penanganan dan penyaluran bantuan air bersih.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sampang, Mohammad Hozin, mengatakan pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan melalui Surat Keputusan yang berlaku sejak 29 Mei hingga 31 Oktober 2026. Status tersebut menjadi acuan bagi BPBD dalam mempercepat langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus.

"Dari hasil pemetaan terdapat 12 kecamatan yang masuk kategori kering kritis, yakni Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun. Wilayah tersebut menjadi prioritas utama apabila dilakukan distribusi bantuan air bersih," kata Hozin, Senin 27 Juli 2026.

Selain kategori kering kritis, BPBD juga mengelompokkan wilayah terdampak ke dalam kategori kering langka yang meliputi Kecamatan Banyuates, Pangarengan, dan Jrengik. Sementara kategori kering terbatas berada di Kecamatan Pangarengan, Sampang, dan Ketapang. Pada wilayah tersebut, sumber air masih tersedia meski debitnya mulai mengalami penurunan akibat minimnya curah hujan.

Hozin menuturkan hingga pertengahan Juli BPBD belum menerima permohonan resmi penyaluran air bersih dari pemerintah desa. Meski demikian, pihaknya telah menyiapkan anggaran serta armada untuk melakukan dropping air apabila kondisi kekeringan semakin parah dan kebutuhan masyarakat meningkat.

Sementara itu, dampak kemarau mulai dirasakan warga di sejumlah desa. Zaiful, warga Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, mengaku debit air sumur terus menurun sehingga masyarakat terpaksa menghemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari.

"Air sekarang semakin sulit didapat. Debit sumur terus berkurang, bahkan ada yang hampir kering. Kami berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau," ujar Zaiful.

BPBD memperkirakan musim kemarau masih berpotensi berlangsung hingga September 2026. Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan mengurangi pemborosan, sementara pemerintah daerah memastikan bantuan air bersih akan diprioritaskan bagi desa-desa yang masuk kategori kering kritis apabila dampak kekeringan terus meluas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....