Cahaya Lampion Muharram, Menyalakan Semangat Hijrah di Sumenep

  • 21 Jun 2026 00:54 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sumenep – Langit malam di Dusun Maraan, Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, tampak berbeda pada Sabtu, 20 Juni 2026. Ratusan cahaya lampion berwarna-warni bergerak perlahan menyusuri jalan desa, berpadu dengan lantunan selawat dan takbir yang menggema dari para santri, wali santri, alumni, serta masyarakat yang mengikuti Pawai Muharram 1448 Hijriah yang digelar Yayasan Pesantren Nurul Asrar.

Sejak usai salat Magrib, halaman sekitar titik keberangkatan mulai dipadati peserta. Anak-anak santri tampak sibuk merapikan lampion yang mereka bawa. Ada yang berbentuk bulan sabit, masjid, hingga bintang. Wajah-wajah ceria mereka memancarkan semangat menyambut Tahun Baru Islam yang bagi masyarakat setempat bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momentum memperbarui niat dan memperkuat keimanan.

Ketika rombongan mulai bergerak, cahaya lampion yang bergoyang mengikuti langkah peserta menciptakan pemandangan yang memikat. Di sepanjang jalan, warga berdiri di depan rumah dan di pinggir jalan. Sebagian mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen, sementara yang lain menikmati suasana hangat yang hanya hadir setahun sekali.

Baca juga: https://rri.co.id/sampang/regional/2507500/pawai-lampion-meriahkan-tahun-baru-islam-1448-hijriah-di-sumenep

Bagi masyarakat Saroka, pawai Muharram telah menjadi tradisi yang melekat dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai generasi. Santri, alumni, orang tua, hingga tokoh masyarakat berjalan berdampingan dalam satu barisan, menyatukan langkah dan harapan di awal tahun Hijriah.

Ketua Panitia, Abd Hayyi, menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai Islam sekaligus upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, makna utama dari peringatan Muharram adalah mengajak umat Islam untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

“Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju perilaku yang lebih baik. Tahun Baru Islam harus menjadi momentum refleksi diri agar kita terus meningkatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.

Pesan itu seakan tercermin dari setiap langkah peserta pawai. Lampion yang mereka bawa bukan hanya hiasan yang mempercantik malam, melainkan simbol cahaya harapan. Harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan, kedamaian, dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat rombongan tiba di Mushalla Nurul Asrar, suasana khidmat mulai menggantikan kemeriahan perjalanan. Doa-doa dipanjatkan bersama, memohon keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru. Bagi masyarakat yang hadir, malam itu bukan hanya tentang pawai, tetapi tentang merawat kebersamaan dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, tradisi pawai lampion Muharram di Saroka menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan, persaudaraan, dan semangat hijrah tetap dapat diwariskan kepada generasi muda. Cahaya lampion yang menerangi jalan desa malam itu pun seolah membawa pesan sederhana: bahwa setiap langkah menuju kebaikan akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju cahaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....