Merawat Eksistensi Tradisi To'-Oto' Madura di tengah Era Digital
- 18 Jun 2026 12:49 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Hingga tahun 2026, tradisi To'-Oto' terbukti masih eksis dan bertahan kuat di kalangan masyarakat Madura, seperti di kawasan Pamekasan, Banyuates, Robatal, hingga Desa di Bangkalan. Meskipun layanan keuangan digital berkembang pesat, To'-Oto' tidak tergerus zaman karena esensinya bukan sekadar perputaran uang atau arisan biasa, melainkan media strategis untuk menyatukan elemen masyarakat dan mempererat tali silaturahmi antar-keluarga.
Dalam program Kita Indonesia, Kamis, 18 Juni 2026, Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menjelaskan relevansi nilai spiritual dan sosial tetap terjaga, menjadi jembatan yang menyatukan peran ulama sebagai pemimpin doa selamatan dengan kaum Belater dalam kehidupan bermasyarakat.
"Secara historis, tradisi yang berakar dari istilah 'bisik-bisik' ini awalnya disimbolkan lewat kuliner khas biji kacang panjang (otok) berbumbu pedas manis asam bernama seronding, serta sajian merah putih (tetel dan wajik). To'-oto' lahir sejak zaman pra-pemberontakan sebagai solusi cerdas berbentuk 'bank sosial' atau arisan untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat saat menghadapi masa sulit kolonial," Jelasnya.
Struktur pelaksanaannya pun kokoh, melibatkan peran Kelebun (kepala desa), ulama, komunitas informal Belater, hingga sistem undangan unik tanpa nama (taburen). Seluruh prosesi tari-tarian dan penyerahan sumbangan (buwoh) tersebut dikemas meriah lewat iringan kesenian musik Sandur Madura.
Sayangnya, warisan budaya yang adiluhung ini kerap dihadapkan pada stereotip negatif dari luar, di mana pakaian adat pesaan, ikat kepala udeng, maupun tradisinya sering disalahartikan dan diidentikkan dengan citra kriminalitas. Bustomi, menyampaikan keprihatinan mendalam dan berharap agar pemerintah beserta tokoh budaya dapat bersinergi memberikan wadah legalitas serta panggung resmi bagi To'-oto'.
"Melalui edukasi yang tepat, generasi muda diharapkan dapat memahami bahwa To'-oto' bukanlah tradisi biasa, melainkan sebuah sistem sosial-ekonomi kompleks yang efektif merawat solidaritas sekaligus tangguh merespons perubahan zaman," tutupnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....