Dari Pasar Tradisional ke Layar Digital: Batik Madura Menyapa Dunia
- 18 Sep 2026 16:59 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Pasar Tradisional Ki Lemah Duwur di Bangkalan mengalami penurunan ramai pengunjung dibandingkan beberapa tahun lalu menjelang siang pada Rabu 16 September 2026.
- Produk batik masih menjadi komoditas utama yang tersusun di etalase toko-toko di pasar tersebut, tetapi kehadiran teknologi ponsel kini menjadi pusat perhatian pengunjung.
- Dinamika pasar tradisional Indonesia menunjukkan pola perubahan perilaku konsumen terhadap pentingnya kehadiran digital dan media elektronik di tengah pelestarian produk lokal.
RRI.CO.ID, Bangkalan - Menjelang siang, Rabu 16 September 2026, Pasar Tradisional Ki Lemah Duwur di Jalan Halim Perdana Kusuma, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, tak seramai beberapa tahun lalu.
Di antara toko-toko yang berjajar, kain batik masih tergantung dan tersusun di balik etalase. Namun, suara yang paling sibuk siang itu justru datang dari sebuah layar ponsel.
“Ini dia, Kak! Batik Marlena yang lagi banyak dicari. Warna merahnya khas banget, cocok untuk acara resmi maupun santai. Bahannya adem, nyaman dipakai seharian.”
Suara itu milik Uswatun Hasanah, atau akrab disapa Uus.
Ia tersenyum ke arah kamera. Sesekali jemarinya menunjuk kain dan pakaian batik yang berada di hadapannya.
Tak ada studio dengan lampu profesional. Tak ada dekorasi mewah. Uus hanya duduk di sebuah toko batik di tengah pasar tradisional.
Namun dari tempat sederhana itu, suaranya menyeberangi batas pasar.
Penontonnya bisa berada di Surabaya, Jakarta, Kalimantan, bahkan di tempat yang belum pernah dikunjunginya.
“Untuk yang Marlena ini sudah lapis furing, jadi makin nyaman dipakai. Harganya langsung dicek di etalase ya, Kak. Jangan lupa follow dan share,” ujarnya dalam percakapan di live tiktok dan shopee live.
Di layar, kain yang semula hanya memenuhi rak toko berubah menjadi barang yang bisa dilihat, dipilih, dan dibeli hanya dengan beberapa sentuhan jari.
Begitulah cara baru Batik Merdeka Marlena berjualan.
Setiap hari, sekitar pukul 10.00 hingga 13.00 WIB, Uus menjadi wajah yang menyapa calon pembeli melalui siaran langsung.

Ia memperlihatkan motif, menjelaskan bahan, menyebut ukuran, menjawab pertanyaan, lalu mengajak penonton memasukkan barang ke keranjang.
“Yang ini ready stock, Kak! Kalau suka, langsung masukin ke keranjang. Jangan sampai kehabisan. Checkout siang ini, ikut pengiriman hari ini juga, guys!”
Kalimat-kalimat sederhana itu kini menjadi bagian dari rutinitas sebuah usaha yang dahulu sepenuhnya mengandalkan transaksi tatap muka.
Di dalam toko, batik tulis dan batik perinting tersusun rapi. Warna-warna khas Madura memenuhi etalase.
Di balik setiap helai kain, ada tangan perajin, ketekunan, pengetahuan, dan motif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dulu, pembeli harus datang sendiri. Mereka menyusuri pasar, berhenti di depan toko, meraba tekstur kain, melihat warna dari dekat, memilih motif, menawar harga, lalu membawa pulang batik yang disukai.
Kini, jarak itu semakin pendek. Cukup membuka ponsel, memilih produk, memasukkannya ke keranjang, lalu menekan tombol checkout.
Kain yang dahulu diam di rak-rak kayu pasar kini bergerak melalui jaringan internet.
Tetapi perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Bagi Nor Chomsiah, pemilik Batik Merdeka Marlena, pandemi menjadi salah satu titik balik perjalanan usahanya bersama sang suami, Jauhari.
“Dulu, semua penjualan dilakukan secara manual. Tapi setelah pandemi, kami sadar bahwa dunia sudah berubah. Kami mulai berjualan online agar tetap bisa bertahan dan berkembang,” kata Nor Chomsiah mengenang berjalanan bisnisnya.
Keputusan itu perlahan membuka pintu pasar yang lebih luas.
Jika sebelumnya konsumen harus datang ke Bangkalan, kini mereka bisa mengenal sekaligus membeli batik khas Bangkalan dari layar ponsel.
Bagi Nor, perubahan tersebut bukan semata soal omzet. Ada kehidupan yang ikut bergerak di belakang setiap transaksi.
Batik Merdeka Marlena kini memberdayakan lima orang karyawan. Mereka berbagi pekerjaan, mulai dari melayani pembeli di toko, mengelola pemasaran daring, hingga memastikan pesanan siap dikirim.
“Yang jelas, omzet penjualan mengalami peningkatan yang signifikan. Kami ingin bisnis ini tetap berjalan dengan semangat kebersamaan. Karyawan kami juga turut berperan dalam membawa batik Bangkalan ke pasar yang lebih luas,” ucap Nor ditengah kesibukannya.
Jalan menuju pasar digital ternyata tidak selalu mulus. Batik Merdeka Marlena pernah menghadapi kendala teknis hingga akun Shopee mereka harus dibuat ulang.
Artinya, harus kembali dari awal. Membangun akun. Membuat konten. Melakukan siaran langsung. Memperkenalkan produk. Dan membangun kembali kepercayaan calon pelanggan.
Kini, produk yang ditawarkan semakin beragam. Tak hanya baju Marlena, tetapi juga batik tulis, batik perinting, hingga batik gentongan.
Untuk batik gentongan tertentu, harganya bahkan dapat mencapai Rp 10 juta per helai.
Di tengah perdagangan elektronik yang kerap identik dengan persaingan harga, Nor memilih jalan berbeda. Ia mempertahankan kualitas sekaligus konsistensi harga.
“Kami tidak sekadar menjual. Kami ingin menjaga nilai dan kepercayaan pelanggan. Batik ini bukan hanya kain, tapi juga bagian dari identitas budaya yang harus terus dilestarikan,” ucapnya dengan nada ramah.
Bagi Uus, menjadi host live shopping dan TikTok bukan sekadar berdiri atau duduk di depan kamera.
Ada pekerjaan yang jauh lebih sulit yaitu membuat calon pembeli merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka sentuh.
Di pasar, pembeli dapat memegang kain. Mereka bisa merasakan teksturnya, melihat warna dari dekat, membandingkan motif, kemudian bertanya langsung kepada penjual.
Di layar, semua pengalaman itu harus diterjemahkan menjadi kata-kata dan gambar.
Tekstur harus dijelaskan. Warna harus diperlihatkan dari berbagai sudut.Ukuran dan bahan harus diterangkan sedetail mungkin.
Uus menjadi jembatan antara kain yang berada di toko dengan pembeli yang berada di balik layar.
“Untuk penjualan di TikTok dan Shopee Live tergantung rezeki juga. Yang pasti setiap hari live, barang ada yang laku terjual. Kalau ramai, bisa sampai puluhan yang laku,” ujar perempuan berkurudung itu.

Angka penjualan memang menjadi salah satu ukuran. Namun di balik transaksi itu ada cerita yang lebih panjang.
Bagaimana sebuah produk yang lahir dari tangan perajin di Bangkalan tetap menemukan tempat ketika cara orang berbelanja berubah. Dan bagaimana pasar tradisional tidak harus hilang ketika pasar digital tumbuh.
Cerita Batik Merdeka Marlena merupakan salah satu gambaran kecil dari perubahan yang lebih besar.
Teknologi membuka pintu baru bagi UMKM untuk menemukan konsumen.Tetapi pintu itu tidak otomatis mudah dilewati semua orang.
Pakar Ekonomi Sumber Daya sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, Norita Vibriyanto, mengatakan digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan bagi UMKM untuk bertahan sekaligus memperluas pasar.
“Apa yang dialami Batik Merdeka Marlena adalah salah satu contoh bagaimana UMKM dapat bertahan dan berkembang dengan digitalisasi. Namun, tidak semua pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk beradaptasi dengan cepat,” ujarnya.
Menurut Norita, masih ada sejumlah pekerjaan rumah. Literasi digital belum merata. Akses internet belum sama. Kemampuan membuat konten juga berbeda-beda. Begitu pula kemampuan mengelola usaha setelah masuk ke ekosistem digital.
Di dunia yang sebagian besar keputusan pembeliannya dipengaruhi tampilan layar, konten menjadi bagian penting dari strategi pemasaran.
“Tanpa konten berkualitas, strategi lain seperti iklan dan branding tidak akan efektif,” kata Norita.
Karena itu, digitalisasi UMKM bukan sekadar memindahkan toko dari pasar ke marketplace.
Pelaku usaha juga harus belajar membuat konten, membaca perilaku konsumen, mengelola transaksi, mencatat keuangan, hingga membangun identitas produk.
Persoalan lain berada di luar toko. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bangkalan, Zainal Alim, mengatakan akses internet di Kabupaten Bangkalan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Ketersediaan penyedia layanan internet (ISP) masih terbatas dan didominasi Telkom. Sementara itu, kualitas dan kecepatan internet seluler belum merata antara wilayah perkotaan dan pelosok.
Masih terdapat pula area blankspot. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika digitalisasi semakin dibutuhkan untuk aktivitas ekonomi.
Sebab, sebuah marketplace tidak banyak berarti bagi pelaku usaha jika koneksi internet tidak tersedia atau tidak stabil.
Dalam kondisi keterbatasan anggaran dan efisiensi, Diskominfo Bangkalan mengakui perluasan akses internet ke seluruh desa bukan pekerjaan yang sederhana.
“Salah satu upaya yang dilakukan kami adalah berkoordinasi dengan pemerintah desa melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), agar setidaknya kantor desa memiliki akses internet atau Wi-Fi yang dapat digunakan untuk bekerja dengan memanfaatkan Dana Desa maupun Dana Operasional Desa dan masyarakat setempat,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk memperluas akses.
“Artinya, perjalanan menuju ekonomi digital tidak hanya membutuhkan pelaku usaha yang mau berubah. Namun, juga membutuhkan infrastruktur yang memungkinkan,” imbuhnya.
Di tengah berbagai tantangan itu, geliat pengrajin batik Bangkalan tetap menunjukkan perkembangan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Bangkalan, Mohammad Rasuli, mengatakan jumlah pelaku UMKM batik yang terdata pada 2025-2026 telah mencapai lebih dari 150 perajin.
Produk yang dihasilkan pun semakin beragam. Pemasarannya mulai bergerak dari ruang fisik ke ruang digital.
WhatsApp, TikTok, dan Shopee menjadi beberapa kanal yang digunakan perajin untuk berkomunikasi sekaligus berjualan kepada konsumen.
“Jumlah pelaku UMKM batik yang terdata 2025-2026 sebanyak 150 pengrajin lebih,” kata Rasuli.
Pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kualitas produk melalui pengembangan keterampilan pembatik, desain dan motif, serta kualitas bahan baku.
Pemasaran tidak hanya dilakukan melalui toko fisik dan pameran, tetapi juga melalui media sosial.
“Program digitalisasi juga mencakup pelatihan penggunaan Instagram, TikTok, dan marketplace, fasilitasi pembayaran digital menggunakan QRIS, serta pencatatan omzet dan arus kas,” kata Rasuli menjelaskan.
Sementara bagi Diskominfo Bangkalan, digitalisasi UMKM tidak berhenti pada kegiatan menjual barang melalui media sosial.
Ada beberapa lapisan perubahan yang perlu dibangun. Melalui media sosial, misalnya, pelaku UMKM dapat mengatur jadwal dan pola konten secara lebih terencana sehingga interaksi dengan pengikut dapat berlangsung konsisten.
“Marketplace membuka peluang memperluas pasar tanpa harus membuka cabang secara fisik. Jejaring afiliasi juga dapat membantu produk lokal dipromosikan oleh kreator konten digital di berbagai platform,” kata Zainal Alim.
Di toko fisik, pembayaran non-tunai melalui QRIS dan dompet digital membuat transaksi menjadi lebih cepat sekaligus mengurangi risiko menerima uang palsu.
Sementara aplikasi kasir digital atau point of sale (POS) dapat membantu mencatat omzet dan riwayat transaksi secara otomatis.
“Membuat perubahan digital bukan sekadar soal “jualan online”. Tetapi bagaimana harus menyentuh cara sebuah usaha bekerja dari hulu hingga hilir,” Zainal Alim menambahkan.
Diskominfo Bangkalan sebelumnya juga telah melakukan pelatihan literasi digital bagi pelaku UMKM, bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur serta relawan digital.
“Kegiatan semacam itu belum dapat dilakukan secara rutin karena keterbatasan sumber daya, terutama anggaran. Untuk memperluas akses informasi mengenai produk lokal, kami juga mengembangkan Portal UMKM Daerah melalui umkm.bangkalankab.go.id,” ucapnya.
Portal tersebut diarahkan menjadi katalog produk UMKM Bangkalan sehingga calon pembeli dari luar daerah maupun investor dapat melihat produk khas daerah.
Pengembangannya masih membutuhkan penguatan sinergi dengan Diskopumdag Bangkalan.
Zainal berharap digitalisasi di Bangkalan pada akhirnya tidak hanya membuat lebih banyak orang berjualan melalui internet.
Ada tujuan yang lebih luas, tata kelola pemerintahan yang semakin baik dengan dukungan teknologi, penguatan literasi digital dan kemampuan masyarakat mengenali hoaks maupun penipuan daring, serta peningkatan daya saing ekonomi dan talenta lokal.
Di toko Batik Merdeka Marlena, Uus terus bertransaksi lewat siaran langsung. Teknologi menjadi jembatan yang membawa kain batik gentongan hingga batik tulis Bangkalan menembus batas jarak.
Layar boleh berubah, tetapi ketelitian tangan perajin Madura tetap sama. Batik Bangkalan tak lagi berhenti sebagai cerita masa lalu ia hidup, tumbuh, dan terus menyapa dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....