Investor Asing Melirik Bangkalan, SDM Lokal Jadi Pertaruhan

  • 18 Sep 2026 16:21 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Investor asing mulai memasuki Kabupaten Bangkalan dengan rencana pembangunan kawasan industri seluas 3.000 hektare yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
  • Investasi ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal.
  • Persiapan menyeluruh diperlukan meliputi kepastian lahan, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan kapabilitas tenaga kerja lokal agar masyarakat Bangkalan dapat berpartisipasi aktif dalam peluang investasi tersebut.

RRI.CO.ID, Bangkalan – Kabar masuknya investor asing ke Kabupaten Bangkalan mulai membuka babak baru bagi perekonomian daerah. Kawasan industri yang direncanakan mencapai sekitar 3.000 hektare menjadi salah satu harapan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi Masyarakat setempat.

Namun, di balik peluang besar tersebut, masih ada pekerjaan rumah yang harus disiapkan. Mulai dari kepastian lahan, infrastruktur, hingga kemampuan tenaga kerja lokal agar masyarakat Bangkalan tidak hanya menjadi penonton ketika investasi mulai berjalan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan, Ismet Efendi, mengatakan pemerintah daerah masih melakukan penjajakan sejumlah lokasi untuk kawasan industri. Beberapa wilayah yang menjadi opsi di antaranya Kecamatan Kamal, Socah, dan Klampis.

Menurutnya, lahan tersebut belum seluruhnya ditetapkan karena pemerintah masih melihat berbagai kemungkinan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan investasi.

“Masih ada beberapa opsi, di tiga kecamatan, Kamal, Socah dan Klampis,” ujarnya. Jumat, 18 September 2026.

Dalam rencana kerja sama dengan PT Wiraraja, perusahaan tersebut nantinya berperan dalam penyediaan kawasan atau lahan untuk disewakan kepada perusahaan yang akan berinvestasi.

Ismet menyebut minat investasi tidak hanya datang dari satu negara. Sejumlah calon investor dari Tiongkok, Timur Tengah, Amerika hingga Eropa disebut mulai dijajaki.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan menargetkan proses penyiapan lahan dapat dilakukan tahun ini. Dengan demikian, pembangunan fasilitas industri diharapkan mulai berjalan pada tahun berikutnya.

Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan sumber daya manusia. Pemkab Bangkalan menargetkan sekitar 70 hingga 80 persen tenaga kerja yang terserap nantinya berasal dari masyarakat lokal.

Pelatihan pun mulai dipersiapkan. Pemerintah akan menyesuaikan jenis pelatihan dengan kebutuhan perusahaan yang masuk sehingga tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang sesuai.

“Tenaga lokal kita utamakan 70 sampai 80 persen. Nanti ada pelatihan-pelatihan,” kata Ismet.

Optimisme terhadap investasi juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Bangkalan, Efendi. Menurutnya, masuknya investor merupakan momentum penting bagi Bangkalan untuk memperkuat perekonomian daerah.

Namun, investasi harus memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Ia menilai pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan lahan sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada investor. Di sisi lain, kepentingan masyarakat yang lahannya terdampak juga harus menjadi perhatian.

“Dampaknya bukan cuma kepada pemerintah Kabupaten Bangkalan, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ucapnya.

Efendi menyebut sejumlah lahan di wilayah Socah sudah mulai dilakukan penjajakan, termasuk proses menuju pembebasan. Selain Socah, kawasan Kamal dan Klampis juga masuk dalam alternatif lokasi.

Bagi DPRD, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana investor datang, tetapi bagaimana masyarakat Bangkalan mampu mengambil bagian ketika investasi tersebut benar-benar terealisasi.

“Pelatihan keterampilan menjadi salah satu kunci. Khususnya mereka yang masih menganggur, perlu dipersiapkan sejak sekarang agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industry,” ungkapnya.

Pengamat Ekonomi Pembangunan dan Moneter Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Ris Yuwono Nugroho, mengingatkan agar kawasan industri nantinya tidak berkembang sebagai kawasan eksklusif yang terpisah dari perekonomian masyarakat sekitar.

Menurutnya, investasi seharusnya membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

“Jangan sampai kawasan itu tidak terkait dengan sekitarnya. Kawasan industri harus terkait dengan perekonomian di sekitar,” ucapnya saat dihubungi melalui jejaring telepon selulernya.

Ia mencontohkan, kebutuhan industri seperti tenaga kerja, jasa pendukung, bahan baku hingga berbagai layanan penunjang seharusnya sebisa mungkin melibatkan masyarakat lokal Madura.

Perguruan tinggi juga memiliki ruang besar untuk mengambil peran. UTM, sebagai salah satu perguruan tinggi terdekat, dapat memetakan kompetensi lulusan yang dibutuhkan industri. Kerja sama melalui magang, penelitian, pengajaran hingga hubungan bisnis dapat dipersiapkan sejak dini.

Bahkan, menurut Ris, peluang tersebut tidak berhenti pada lapangan pekerjaan formal. UMKM lokal juga dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi kawasan industri, misalnya melalui penyediaan katering, bahan baku maupun jasa pendukung lainnya.

“Sosialisasi rencana investasi dan kebutuhan tenaga kerja perlu dilakukan sejak awal. Masyarakat harus mengetahui keterampilan apa yang akan dibutuhkan sehingga dapat mempersiapkan diri,” kata pria yang juga Koornator program studi magister ilmu ekonomi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu dengan mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....