Mengukir Asa di Pulau Garam: TNI AD dan Rakyat Menyatu dalam Karya

  • 12 Agt 2026 14:03 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • TNI Angkatan Darat secara resmi meluncurkan Karya Bhakti Skala Besar Tahun 2026 di Pulau Madura dengan dimulai dari Kabupaten Bangkalan pada Senin 6 Juli 2026.
  • Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin merayakan peluncuran program tersebut dengan menggunakan kereta ul-daul, kesenian musik tradisional Madura.
  • Acara peluncuran Karya Bhakti melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal di Alun-alun Bangkalan dengan suasana meriah dan penuh antusiasme.

RRI.CO.ID, Bangkalan - Angin pagi menjelang siang di Alun-alun Kabupaten Bangkalan membawa keriuhan yang tidak biasa pada Senin 6 Juli 2026. Senyum warga merekah, berpadu dengan ketukan irama khas yang bergema merdu. Di tengah lautan manusia, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin tampak tersenyum lepas saat menaiki kereta ul-daul kesenian musik tradisional kebanggaan warga Madura yang diarak meriah diiringi sorak-sorai masyarakat.

Kemeriahan pesta budaya pagi itu bukan sekadar perayaan tanpa makna. Di Alun-alun Bangkalan, sebuah langkah besar baru saja diayunkan. TNI Angkatan Darat secara resmi menandai dimulainya Karya Bhakti Skala Besar Tahun 2026 di Pulau Madura.

Momen paling menyentuh terjadi saat prosesi simbolis dimulai, sebuah potongan gambar Pulau Madura dipasangkan dengan presisi di atas peta Indonesia. Sebuah gestur sederhana namun mendalam, menegaskan bahwa Madura adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan Nusantara.

Menerobos Batas, Merajut Sinergi

Pulau Madura menyimpan potensi luar biasa yang terhampar di balik pesisir dan perbukitannya. Namun, tidak dipungkiri, tantangan infrastruktur, akses air bersih, hingga hunian yang belum layak masih menjadi bayang-bayang di beberapa sudut desa. Menjawab tantangan tersebut, sekitar 500 peserta yang terdiri dari prajurit TNI, Polri, jajaran pemerintah daerah, mahasiswa, santri, hingga organisasi kemasyarakatan berdiri berbaris rapi. Mereka bersiap memeras keringat bersama untuk empat kabupaten di Pulau Madura: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dalam amanatnya, Mayjen TNI Rudy Saladin menegaskan program ini adalah wujud nyata Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Bukan hanya sekadar baris-berbaris atau latihan tempur, melainkan pertempuran melawan keterbatasan masyarakat.

"Program ini tidak hanya menyasar pembangunan fisik seperti jembatan, sumur bor, rumah ibadah, rumah tidak layak huni, sekolah, dan panti asuhan. Tetapi juga kegiatan nonfisik mulai dari bakti kesehatan, donor darah, operasi katarak, khitan massal, penanaman pohon, hingga pemberian alat bantu bagi penyandang disabilitas." Kata Pangdam V/Brawijaya.

Dedikasi Tanpa Jarak di Garis Depan

Di balik besarnya program ini, ada kesiapan prajurit di lapangan yang tak ragu untuk kotor dan lelah. Komandan Kodim Bangkalan, Letkol Inf. Dwi Heru, menyampaikan komitmennya untuk memastikan setiap kucuran keringat anggotanya benar-benar menyentuh akar rumput. Bagi Letkol Dwi Heru, keberhasilan karya bhakti ini tidak sekadar dihitung dari berapa unit rumah yang berhasil dicat atau berapa kilometer jalan yang dicor.

"Karya Bhakti Skala Besar ini menjadi momentum memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari semakin kuatnya semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat," ungkap dengan semangat menyala.

Sinergi ini pun mendapat apresiasi mendalam dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Pihaknya optimistis, kehadiran TNI AD yang turun langsung ke lapangan akan memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang masif bagi percepatan kesejahteraan warga Madura.

"Ini luar biasa dari Karya Bakti Skala Besar TNI AD untuk Madura. Ketika seluruh elemen, pemerintah, TNI, Polri, akademisi, hingga masyarakat bergerak bersama, pembangunan akan berlangsung lebih cepat, merata, dan manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan," ujar Khofifah dengan nada optimistis.

Usai upacara pembukaan dan pelepasan karnaval, iram-irama ul-daul perlahan beranjak, berganti dengan deru mesin dan langkah tegap para prajurit yang mulai menyebar ke pelosok desa. Dari peninjauan posko pelayanan kesehatan hingga dimulainya bedah rumah tidak layak huni, Karya Bhakti Skala Besar TNI AD 2026 ini resmi mengalirkan harapan baru.

Sentuhan Prajurit di Lantai Rumah Sederhana

Di sebuah rumah sederhana di Dusun Jaddih Selatan, Desa Jaddih, Kecamatan Socah, suara ketukan palu dan gesekan keramik menjadi penanda bahwa harapan sedang dibangun sedikit demi sedikit. Pada Minggu 9 Agustus 2026, personel Koramil Socah kembali melanjutkan program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Bu Maninten. Dengan penuh ketelitian, dua prajurit TNI bersama tiga pekerja umum memasang keramik, membawa rumah itu semakin dekat menjadi tempat tinggal yang layak. Progres pembangunan kini telah mencapai 80 persen.

Bagi Bu Maninten, setiap keping keramik yang terpasang bukan sekadar pelengkap lantai rumah. Di baliknya tersimpan harapan akan kehidupan yang lebih nyaman, lebih aman, dan lebih bermartabat. Rumah yang selama ini menjadi saksi perjuangan hidupnya kini perlahan berubah berkat kepedulian para prajurit yang hadir tanpa mengenal lelah.

Batituud Koramil Socah, Peltu As'ad, menegaskan bahwa program RTLH merupakan wujud nyata pengabdian TNI AD kepada masyarakat.

"Kami ingin kehadiran TNI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Rumah yang layak bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga menghadirkan semangat dan harapan baru bagi penghuninya. Inilah makna Bhakti TNI AD untuk Rakyat, hadir membantu dengan kerja nyata," ungkapnya.

Semangat serupa juga terlihat pada Senin 10 Agustus 2026 pagi di rumah Bu Mari'a di lokasi yang sama. Suara palu yang beradu dengan kayu memecah keheningan saat dua prajurit Koramil Socah bahu-membahu bersama tiga warga memasang rangka dan plafon. Bagi Bu Mari'a, setiap paku yang tertancap adalah simbol perlindungan baru bagi keluarganya.

Di Atas Jembatan Baru, Kebersamaan Terjalin Erat

Terik sinar matahari Minggu siang tak mengurangi kehangatan suasana di Dusun Sanggra Agung Timur, Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah. Di atas jembatan Armco yang baru selesai dibangun, prajurit Koramil Socah dan warga duduk bersila menikmati makan siang bersama. Tak ada sekat antara seragam loreng dan pakaian kerja warga. Mereka berbagi cerita, tawa, dan rasa syukur atas selesainya jembatan yang dibangun melalui Program Bhakti TNI AD untuk Rakyat.

Selama beberapa hari, empat personel TNI bersama delapan pekerja umum bergotong royong menyelesaikan pembangunan jembatan. Tahap terakhir ditandai dengan pengecatan pagar hingga jembatan tampak kokoh, bersih, dan siap dimanfaatkan masyarakat. Progres pekerjaan pun tuntas 100 persen.

Batituud Koramil Socah, Peltu As'ad, mengatakan bahwa kebersamaan yang terjalin selama pembangunan merupakan nilai utama dari Bhakti TNI AD untuk Rakyat.

"Jembatan ini memang menjadi hasil yang terlihat, tetapi yang lebih berharga adalah terbangunnya rasa persaudaraan antara TNI dan masyarakat. Ketika semua bergandengan tangan, pekerjaan seberat apa pun dapat diselesaikan dengan baik. Semoga jembatan ini menjadi jalan yang membawa manfaat, memperlancar aktivitas warga, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan kita," ungkapnya.

Menjaga Lingkungan di Burneh, Menghubungkan Harapan di Kamal

Semangat gotong royong juga menjalar ke wilayah lain. Di Kecamatan Burneh, pada Minggu 9 Agustus 2026, Koramil setempat menggelar pembersihan lingkungan di sekitar Jembatan Desa Junok, Kelurahan Tunjung. Personel TNI bersama warga bahu-membahu mengangkat sampah dan eceng gondok yang menutupi aliran sungai sebagai langkah antisipasi banjir.

Babinsa Koramil Burneh, Peltu Faruq, menekankan pentingnya kepedulian lingkungan.

"Melalui kegiatan Bakti TNI AD untuk Rakyat ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan. Sungai yang bersih akan memperlancar aliran air, mengurangi risiko banjir, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat gotong royong seperti inilah yang harus terus kita pelihara," ujarnya.

Sementara itu, di Kecamatan Kamal, kehadiran TNI AD memberikan napas baru bagi konektivitas desa. Personel Kodim Bangkalan bersama warga setempat fokus pada perbaikan dan penguatan struktur jembatan penghubung antar-dusun yang selama ini rusak akibat erosi dan beban kendaraan berat.

Dengan menggunakan material lokal dan bantuan teknis dari anggota ZI (Zenii Tempur), jembatan di Kamal tersebut diperkuat fondasinya dan dilapisi ulang permukaannya. Warga Kamal yang sebelumnya harus berhati-hati saat melintas, kini dapat melewati jembatan dengan rasa aman.

Seorang tokoh masyarakat di Kamal, Pak Syamsul, mengungkapkan rasa terima kasihnya.

"Dulu kami takut lewat jembatan ini saat hujan deras karena licin dan goyah. Sekarang, berkat bantuan bapak-bapak TNI, jembatan ini jadi kokoh lagi. Ini sangat membantu anak-anak sekolah dan petani yang mengangkut hasil bumi," katanya sambil memantau proses finishing pengecatan railing jembatan.

Kegiatan di Kamal ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi juga simbol bahwa tidak ada wilayah yang terlewatkan dalam perhatian TNI AD. Setiap jembatan yang diperbaiki adalah urat nadi ekonomi desa yang kembali hidup.

Dari denting palu di rumah Bu Maninten, tawa di atas jembatan Socah, keringat di sungai Burneh, hingga kokohnya jembatan di Kamal, Karya Bhakti Skala Besar TNI AD 2026 di Madura telah membuktikan satu hal, pembangunan sejati tidak pernah berhenti pada beton dan besi.

Di Pulau Garam ini, TNI AD bukan hanya hadir sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai saudara kandung yang siap membahu. Mereka telah menenun masa depan Madura menjadi lebih kokoh, bermartabat, dan penuh harapan melalui kemanunggalan yang tidak terpisahkan antara tentara dan rakyat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....