Disaat Malam 1 Muharram Menyapa Madura

  • 15 Jun 2026 20:51 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang : Langit mulai gelap ketika bulan Zulhijah berakhir. Di sejumlah kampung di Kabupaten Sampang, suasana malam pergantian tahun Hijriah terasa berbeda. Tidak ada pesta kembang api atau kemeriahan yang berlebihan. Sebaliknya, masyarakat mengisinya dengan doa, lantunan ayat suci Al-Qur'an, dan berbagai amalan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat Madura, malam 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender Islam. Momen tersebut menjadi waktu untuk merenung, memohon ampunan, sekaligus menata harapan baru. Setelah salat Asar di penghujung tahun, sebagian warga membaca doa akhir tahun. Ketika azan Magrib berkumandang, doa awal tahun pun dipanjatkan dengan harapan kehidupan yang lebih baik pada tahun yang akan datang.

Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, mengatakan terdapat sejumlah tradisi yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah minum susu putih pada malam 1 Muharram.

"Tradisi itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan simbol harapan agar perjalanan hidup selama setahun ke depan dipenuhi kesucian, keberkahan, dan kebaikan," tuturnya Senin 15 Juni 2026.

Di rumah-rumah warga, musala, hingga masjid, malam Muharram juga diisi dengan pembacaan Surat Yasin, zikir, serta berbagai doa.

"Sebagian masyarakat melakukannya bersama keluarga, sementara yang lain berkumpul dengan tetangga dan jemaah masjid. Suasana yang tercipta terasa hangat dan penuh kekhidmatan," terangnya.

Keesokan harinya, tradisi berlanjut dengan khataman Al-Qur'an. Sejak pagi, masyarakat berkumpul untuk membaca Al-Qur'an secara bergantian hingga seluruh 30 juz selesai dibaca menjelang sore. Tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu ciri khas peringatan Tahun Baru Islam di berbagai wilayah Madura.

"Di tengah arus modernisasi, tradisi menyambut 1 Muharram tetap bertahan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya mengajarkan kedekatan kepada Allah SWT, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama," jelasnya.

Diungkapkannya dari doa yang dipanjatkan, ayat-ayat yang dilantunkan, hingga kebersamaan yang terjalin, masyarakat Madura menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperbaiki diri dan menata langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....