Merajut Asa Pelita Bangsa di Tengah Keterbatasan
- 09 Jun 2026 16:09 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Bangkalan - Langit Bangkalan siang itu memantulkan panas yang menyengat, seolah menekan setiap langkah yang saya ayunkan menuju gerbang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 51 Bangkalan. Tepat pukul 14.10 Wib, hari Jumat yang terik, 5 Juni 2026 seorang satpam menyambut dengan senyum ramah.
“Selamat siang, Pak. Silakan masuk. Kalau motornya bisa diparkir di sebelah kiri halaman, lebih teduh di bawah pohon mangga,” ujarnya, memberi arahan sekaligus membuka pintu bagi saya untuk menyelami kehidupan di dalam lingkungan asrama.
BACA JUGA: SRT 51 Bangkalan Siapkan Kuota 60 Siswa Baru
Benar saja, begitu melewati halaman, riuh tawa anak-anak lelaki yang tengah bermain layang-layang langsung menyergap telinga. Benang-benang tipis itu bergetar melawan angin, meski tak selalu berhasil mengangkat kertas ke langit.
Seorang bocah berteriak sambil menahan senyum malu, “Layanganku belum mau terbang, tapi aku tidak akan menyerah, ayo naikkan layangannya bareng-bareng,” sambari bocah itu mengajak ke teman yang lainnya.

Tak jauh dari sana, sekumpulan siswi larut dalam permainan lompat karet. Tali sederhana yang dirangkai dari lingkaran karet menjadi jembatan kecil menuju kebahagiaan dan permainan tradisonal engklek.
BACA JUGA: Siswa Baru Sekolah Rakyat Bangkalan Prioritaskan Anak Desil 1 dan 2
“Kalau aku bisa melompati tali ini lebih tinggi, rasanya seperti terbang. Ayu melompatnya bergantian,” celetuk seorang anak berkerudung itu dengan penuh tertawa bersama.
Suasana itu menjelma harmoni, panas matahari, semilir angin, riuh tawa, dan kesabaran para wali asuh memanggil mereka yang sedang larut dalam bermain di halaman asrama untuk ke moshalla karena azan Asar berkumandang yang terdengar dari toa Moshalla Asrama.
“Ayo anak-anak bermainnya berhenti dulu, lanjutin nanti lagi, ayoo segera ke moshalla ambil wuduk sudah adzan asar,” kata Lisa seorang wali asuh yang sedang piket hari itu.

Dinas Sosial Bangkalan
Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Bangkalan Abdul Aziz melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Mohammad Aminullah menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Bangkalan resmi meluncurkan SRT 51 pada tanggal 30 September 2025 lalu sebagai bagian dari program nasional.
BACA JUGA: Sekolah Rakyat Bangkalan Buka Harapan Orang Tua Siswa
“Program ini menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, terutama kategori desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSN),” ucapnya.
Menurut Aminullah, sekolah rakyat menjadi wujud nyata visi pemerintah dalam menekan angka kemiskinan melalui pendidikan.
“Sekolah rakyat menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, termasuk yang putus sekolah atau berpotensi putus sekolah,” ujarnya.
Pada tahun ajaran pertama, SRT 51 menampung 82 siswa—40 SD dan 42 SMP—dengan sistem asrama agar pembinaan karakter berjalan seiring pendidikan formal. Semua kebutuhan ditanggung pemerintah, mulai dari seragam, buku, makan, hingga laptop untuk menunjang belajar.
“Untuk tahun ajaran baru 2026–2027, SRT 51 Bangkalan mendapat arahan langsung dari pusat untuk menerima 60 siswa baru, 30 SD dan 30 SMP,” ujarnya.

Delapan Bulan Memimpin, Kepala SRT 51 Bangkalan Berkisah
Delapan bulan menjadi kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 51 Bangkalan bukanlah waktu yang panjang, namun bagi Lailatul Munawaroh, setiap harinya terasa seperti membuka bab baru dalam sebuah buku. Murid datang dan pergi, membawa warna dan cerita yang berbeda. Ada yang pendiam dengan bakat tersembunyi, ada yang hiperaktif namun penuh kreativitas, ada pula yang pemalu, bahkan ada yang menunjukkan jiwa kepemimpinan alami sejak dini.
BACA JUGA: Sekolah Rakyat 51 Bangkalan Resmi Dibuka Bupati
“Setiap hari selalu ada kejutan,” ujarnya. “Mereka jujur dengan segala kenakalan dan keluguannya. Kesalahan yang dilakukan bukan karena niat buruk, melainkan karena belum ada yang mengajari. Di sekolah, mereka belajar membedakan mana yang benar dan salah.”
Perubahan karakter anak-anak menjadi kebahagiaan tersendiri. Dari yang manja dan penuh drama, kini mulai tumbuh mandiri. Senyum mereka saat berhasil, atau ketika meraih prestasi, menjadi energi yang tak ternilai.
“Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilupakan,” kata Lailatul dengan mata berbinar.
Namun, tantangan terbesar adalah menciptakan ekosistem inklusif. Di sekolah rakyat, semua anak harus dirangkul: yang berbakat, yang lambat belajar, bahkan yang kehilangan motivasi.
BACA JUGA: Sekolah Rakyat Bangkalan Resmi Dibuka Siswa Jalani MPLS
“Peran kepala sekolah itu seperti dirijen paduan suara,” tuturnya. “Menyatukan berbagai nada menjadi simfoni indah tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. No one behind.”
Bagi Kepala Sekolah, mendidik bukanlah mencetak robot, melainkan merawat tanaman. Setiap bunga mekar dengan warna dan keharumannya sendiri.
“Kami hanya berusaha menumbuhkan apa yang Allah takdirkan. Tidak mungkin menanam padi tumbuh jagung. Tugas kami mengantarkan mereka sesuai karakter masing-masing,” jelasnya.
Meski melelahkan lahir batin, ia menyebut kehormatan terbesar adalah melihat perubahan positif pada anak-anak.
“Memberikan ilmu yang bermanfaat, melihat mereka bahagia, menang lomba, atau berubah menjadi lebih baik, itu harapan saya menjadi amal kecil yang diterima kelak,” ucapnya penuh haru.

Suara Wali Murid: Perubahan yang Membahagiakan
Liburan Idul Fitri menjadi momen yang paling ditunggu. Saat anak-anak pulang dari asrama SRT 51 Bangkalan, orang tua melihat sendiri perubahan karakter yang tumbuh dalam diri putra-putri mereka.
Muhammad Dika Nufatama yang dulu pendiam, kini pulang dengan wajah lebih ceria. Ibunya bercerita, “Dulu tidak ada kata sama sekali, bahkan kepada saya. Sekarang lebih sopan, berani menyapa orang dewasa. Saya bersyukur dan berterima kasih atas bimbingan para guru dan wali asuh.”
BACA JUGA: Kurikulum Sekolah Rakyat Bangkalan Lebih Fleksibel Adaptif
Hal serupa dirasakan wali murid dari siswa Saiful dan Maulana. Ia melihat anak-anaknya mulai rajin membaca, menulis, dan lebih tekun dalam sholat serta mengaji. “Alhamdulillah, semuanya lebih baik,” ucapnya singkat, dengan penuh rasa syukur.
Bagi Holifin, ibu dari Ibrahimofik, liburan kali saat Idul Fitri terasa berbeda. “Dulu anak saya susah dibangunkan. Sekarang bangun subuh sendiri, mandi, mencuci baju, bahkan membantu saya menyapu rumah. Lebih sopan dan berbakti. Terima kasih Sekolah Rakyat, terima kasih Bapak Presiden Prabowo,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, wali murid dari siswa Muhammad Mustafirin Ramdani, dan Umar Paruk merasakan anak-anak mereka semakin disiplin dan ada perubahan ke arah yang sangat positi. “Sekarang lebih rajin bangun pagi, istiqomah sholat, dan banyak menghafal pelajaran agama,” ungkap mereka dengan bangga.
Wali Asuh: Menjadi Orang Tua Kedua
Di asrama, sosok Yulistiana Dwi Purnamasari, akrab disapa Lisa, adalah figur yang tak pernah lelah. Ia hadir bukan sekadar sebagai pengawas, melainkan benar-benar menjadi orang tua kedua bagi anak-anak.
“Sejak subuh, kami sudah bersama mereka. Membimbing sholat berjamaah, memastikan kamar bersih, menemani belajar, hingga mengontrol kesehatan anak-anak. Kalau ada yang sakit, kami bergantian menjaga di rumah sakit. Semua demi keselamatan mereka,” ujarnya dengan nada penuh ketulusan.
Lisa mengaku, mendampingi anak-anak dari latar belakang ber macam-macam membuatnya belajar banyak tentang arti kesabaran. Ada anak yang sulit diatur, ada yang terlalu aktif hingga jatuh saat bermain, bahkan ada yang harus dirawat di rumah sakit. Namun semua itu ia jalani dengan hati.
Baginya, yang paling menyentuh adalah melihat perubahan karakter anak-anak. Dari yang awalnya suka bertengkar, saling mengejek, hingga kini mulai belajar rukun dan saling mengasihi.
“Saya ingin mereka tumbuh bukan hanya pintar, tapi juga punya hati yang baik. Karena pendidikan sejati adalah menumbuhkan akhlak dan kasih sayang,” tuturnya.

Waka Kurikulum yang Menata Ilmu dan Disiplin
Di ruang guru, Prista Aziza Rahmi, Waka Kurikulum, memikul tanggung jawab besar. Perempuan asal Lumajang ini sebelumnya mengajar di SMP Negeri 2 Pasirian, lalu bergabung ke SRT setelah menempuh Pendidikan Profesi Guru.
Prista mengaku, awal masuk SRT adalah tantangan yang luar biasa.
“Banyak siswa yang bahkan belum mengenal huruf. Ada yang putus sekolah karena ekonomi. Kami harus mengajarkan perilaku dan disiplin dari nol lagi,” kenangnya.
Namun kerja keras itu berbuah manis. Setelah tujuh bulan, anak-anak mulai disiplin, berani belajar, dan menunjukkan semangat luar biasa. Dari 70 siswa awal, kini jumlahnya bertambah menjadi 82.
“Perubahan mereka sangat signifikan. Dulu harus diobrak-obrak untuk makan, sekarang sudah sadar sendiri mengikuti jadwal,” ujarnya.
Tantangan terbesar justru ada di jenjang SD. Dengan keterbatasan ruang, guru harus mengajar kelas rangkap.
“Bayangkan, satu guru mengajar kelas 1 dan 2 sekaligus, atau kelas 3 sampai 6. Itu butuh kreativitas luar biasa. Tapi saya melihat guru-guru di sini mampu menyesuaikan, dan anak-anak tetap bisa belajar dengan baik,” ucapnya.
Ada satu momen yang tak pernah ia lupakan. Saat menjaga ujian, seorang siswa SMP yang belum bisa membaca tiba-tiba berkata, “Ibu, saya mau belajar membaca dengan Ibu.” Bagi Prista, kalimat sederhana itu adalah bukti semangat luar biasa anak-anak SRT.
“Tagline kami adalah kerjas bersama, tumbuh setara. Dan saya melihat sendiri bagaimana anak-anak yang dulu tidak punya mimpi kini berani bercita-cita tinggi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Suara Siswa-Siswi SRT 51 Bangkalan
Nur Laily, Merajut Mimpi yang Hilang
Nur Laily, siswi kelas 7 dari Kecamatan Geger, pernah berhenti sekolah selama tiga tahun karena orang tuanya tak mampu membayar biaya. Sehari-hari ia membantu orang tua di sawah, memanen jagung dan padi.
Kini, Laily kembali merajut mimpi. “Bahagia rasanya bisa sekolah lagi. Meski awalnya tidak kerasan, sekarang sudah betah. Setelah lulus SMP, saya ingin lanjut SMA. Tidak mau putus sekolah lagi,” katanya mantap.
Rafa Inayah, Senyum Polos Kelas 1
Di bangku kelas 1, ada Rafa Inayah dari Desa Katol. Gadis kecil ini dulu tak bisa sekolah karena keterbatasan biaya. Kini ia menikmati kebersamaan di asrama: makan bersama, bermain lari-larian, belajar membaca, hingga ikut outing ke Malang dan Surabaya.
“Kalau waktunya makan, enak sekali. Tidak pernah ketinggalan, yang kadang nangis kangen orang tua, kadang nangis karena teman di asrama,” ujarnya polos. Meski kadang masih kangen orang tua, Rafa merasa kerasan. Pelajaran favoritnya adalah matematika, dan ia mulai berani bermimpi seperti teman-temannya.
Muhammad Aidil, Tekad Jadi Guru Olahraga
Muhammad Aidil, siswa kelas 7 asal Geger, sempat berhenti sekolah selama tiga tahun setelah lulus SD. Sehari-hari ia membantu orang tua mencari rumput untuk sapi dan bekerja serabutan.
Kini, Aidil menemukan arah baru. “Awalnya tidak kerasan, ingat orang tua. Tapi sekarang sudah betah. Saya tidak ingin pulang,” katanya.
Pelajaran favoritnya adalah PJOK, dan ia bercita-cita menjadi guru olahraga. “Orang tua selalu berpesan: jangan menyerah, kejar cita-cita. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” ujarnya penuh semangat.
M. Nur Ridwan, Cita-cita Jadi TNI
M. Nur Ridwan, siswa kelas 7 dari Kecamatan Klampis, Desa Penyeksagan, adalah wajah lain dari semangat anak-anak SRT. Sebelum masuk sekolah ini, ia hanya bermain dengan teman-teman kampung dan membantu orang tua di kebun. Setelah lulus SD, ia sempat berhenti sekolah selama empat bulan karena biaya.
“Sejak dulu saya ingin sekolah, tapi orang tua tidak mampu. Begitu ada kesempatan masuk SRT, saya langsung betah. Di sini banyak teman dari berbagai kecamatan, guru yang baik, dan ilmu yang barokah,” ujarnya.
Pelajaran favorit Ridwan adalah IPS, sementara matematika menjadi tantangan tersendiri. Namun ia tak pernah menyerah.
“Cita-cita saya ingin jadi TNI. Karena tinggi badan saya mendukung, dan saya ingin mengabdi untuk bangsa,” katanya penuh keyakinan.
Baginya, kebersamaan di asrama adalah hal yang paling berharga. Belajar bersama, bermain layang-layang, membuat batik, hingga mengikuti pramuka setiap Sabtu.
“Pesan saya untuk teman-teman di luar sana yang tidak mampu sekolah masuklah ke SRT 51. Di sini kita dapat ilmu, kasih sayang guru, dan teman-teman dari berbagai daerah,” ujarnya.

Pesan orang tua yang selalu ia ingat adalah belajar sungguh-sungguh dan jangan mudah bertengkar. Sementara pesan guru yang paling membekas: “Lupakan masa lalu, fokuslah pada masa depan.” Ridwan pun bertekad melanjutkan sekolah hingga SMA dan Perguruan Tinggi.
SRT 51 Bangkalan adalah mozaik kehidupan. Dari kasih sayang Lisa sang wali asuh, keteguhan Prista sang pengatur kurikulum, hingga semangat Nur Laily, Rafa, M. Nur Ridwan, dan Aidil, semua berpadu menjadi cerita tentang pendidikan yang tumbuh setara.
Di sini, pendidikan bukan hanya soal buku dan kurikulum, melainkan tentang hati yang rela mendampingi, membimbing, dan menyalakan kembali cahaya masa depan. Seperti matahari yang terbit setiap pagi, SRT 51 Bangkalan menyalakan asa baru bagi anak-anak bangsa.
Mereka yang dulu kehilangan kesempatan kini menemukan arah. Mereka yang dulu tanpa mimpi kini berani bercita-cita. Dan di setiap langkah kecil mereka, SRT 51 Bangkalan menjadi saksi bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih layak, lebih setara, dan lebih bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....