Ribuan Langkah Menyusuri Jejak Sejarah Isyaroh Pendirian NU
- 05 Jan 2026 17:22 WIB
- Sampang
KBRN, Bangkalan: Langkah kaki itu dimulai dari halaman Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil, Demangan Bangkalan, Minggu (4/1/2026) pagi masih basah oleh embun, namun semangat ribuan peserta sudah menyala. Di antara wajah-wajah penuh harap, berdiri Al Azas Farhami, atau akrab disapa Azmi, anggota Banser Bangkalan yang juga mengemban amanah di Biro Informasi dan Komunikasi.
BACA JUGA: Napak Tilas NU: Jejak Spiritual Bangkalan ke Jombang
“Ini momentum besar, sebuah kehormatan. Kami berjalan bukan sekadar fisik, tapi menghidupkan kembali sejarah Nahdlatul Ulama,” ucapnya lirih, seolah menegaskan bahwa setiap langkah adalah doa kepada RRI.co.id. Senin (5/1/2026)
BACA JUGA: Gus Yahya: Napak Tilas Isyaroh NU Momentum Berkah
BACA JUGA: Napak Tilas Pendirian NU, Ribuan Jemaah Berjalan Kaki

Perjalanan menuju Pelabuhan Kamal sejauh 18 kilometer terasa panjang, namun di setiap pos singgah ada kehangatan yang menyapa, hingga rumah warga yang menyuguhkan air tebu segar. Semua menjadi bagian dari cerita kebersamaan.
Menyeberang Selat Madura bukan tanpa ujian. Ombak beriak, angin berhembus kencang, dan kapal feri tak mampu menampung ribuan peserta. Maka puluhan perahu kecil menjadi saksi keberanian. Dengan pelampung di dada dan doa di bibir, mereka melintasi laut, seolah mengulang jejak para pendiri NU yang dulu juga menantang alam demi amanah besar.
Di Surabaya, rombongan singgah di Makam Sunan Ampel, lalu menuju kantor NU yang disambut para pemimpin daerah. Dari sana, kereta membawa mereka ke Jombang. Malam itu, langkah kaki kembali berderap menuju Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tempat sejarah NU berakar.
Hujan deras mengguyur, bahkan sempat menimbulkan banjir. Namun jas hujan dikenakan, doa dipanjatkan, dan perjalanan tetap dilanjutkan.
“Alam memang ujian, tapi kebersamaan membuat kami kuat,” kata Azmi.
Di Tebuireng, tahlil bergema, doa mengalun, dan air mata jatuh tanpa terasa. Para peserta membayangkan kembali pertemuan bersejarah antara KH. As’ad Syamsul Arifin dan KH. Hasyim Asy’ari, yang menyempurnakan mandat pendirian NU.
Bagi Azmi, perjalanan ini adalah amanah. “NU adalah organisasi suci. Mari kembali kepada ulama, belajar mengaji, dan jangan terjebak isu provokatif. Generasi muda harus melihat NU dari sisi sejatinya,” pesannya.