Napak Tilas NU: Jejak Spiritual Bangkalan ke Jombang
- 05 Jan 2026 16:39 WIB
- Sampang
KBRN, Bangkalan: Pagi itu, Minggu (4/1/2026) udara kota Bangkalan masih teduh ketika ribuan peserta Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU mulai melangkah. Di antara mereka, Abdurrohman Hafi, sekretaris LPBH NU Bangkalan, turut serta dengan semangat yang membuncah. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan sebuah ritual spiritual untuk menghidupkan kembali sejarah pendirian Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA: Napak Tilas Pendirian NU, Ribuan Jemaah Berjalan Kaki
“Alhamdulillah perjalanan berjalan lancar, meski ada sedikit kendala. Salah satu peserta sempat mabuk laut saat penyebrangan,” kenangnya saat berdialog bersama RRI Sampang. Senin (5/1/2025)
Perjalanan dari Bangkalan menuju Surabaya melalui Pelabuhan Kamal menjadi ujian tersendiri. Ombak dan arus laut membuat sebagian peserta harus menahan rasa mual. Namun semangat kebersamaan membuat semua tetap bertahan. “Kami saling menguatkan, saling menjaga. Itulah semangat santri,” ujar Hafi.
BACA JUGA: Seribu Peserta Napak Tilas NU Siap Menuju Jombang
BACA JUGA: Gus Yahya: Napak Tilas Isyaroh NU Momentum Berkah
Setibanya di Jombang, perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Pesantren Tebuireng. Gerimis tipis menyambut langkah para peserta. Hafi mengaku momen itu membuatnya terharu, karena seolah menyaksikan kembali jejak sejarah ketika Hadratus Syaikh KH. As’ad Samsul Arifin menerima mandat dari gurunya, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif, untuk menyampaikan isyaroh pendirian NU kepada masyarakat.

“Selama ini kami hanya mendengar cerita sejarah. Tapi kali ini kami merasakan langsung atmosfernya. Air mata saya tak tertahan,” ungkapnya.
Hafi bercerita bagaimana ia selalu berada di samping KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, yang ikut berjalan kaki sejauh 18 km. Ia menyaksikan ketawaduan sang ulama besar, yang sepanjang perjalanan terus melafalkan dzikir: Ya Jabbar, Ya Qahhar.
“Raut wajah beliau tidak pernah menunjukkan lelah. Itu momen luar biasa dalam hidup saya,” kata Hafi.
Mayoritas peserta adalah santri yang jarang berolahraga. Banyak yang merasakan kram, luka di kaki, bahkan berjalan hanya dengan sandal jepit. Namun setiap keluhan diatasi dengan saling membantu: ada yang memberi obat, ada yang memayungi, ada yang sekadar memberi semangat.
“Napak tilas ini mengingatkan kami bahwa perjuangan NU dibangun di atas fondasi spiritual dan kebersamaan. Tidak ada yang bisa menjaga organisasi ini kecuali Allah SWT dan para ulama,” tegas Hafi.
Di Tebuireng, prosesi penutupan dilakukan dengan tahlil bersama. Hujan turun, membasahi peserta yang duduk di emperan makam. Namun tak seorang pun mengeluh. Semua larut dalam doa, membayangkan pertemuan bersejarah antara KH. As’ad Syamsul Arifin dan KH. Hasyim Asy’ari, yang menyempurnakan mandat pendirian NU.
“Gerimis itu justru membuat suasana semakin khusyuk. Kami merasa dekat dengan para ulama, dekat dengan Allah SWT,” ujar Hafi dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai generasi muda NU, Hafi menegaskan pentingnya kembali kepada ulama dan menjaga nilai-nilai spiritual dalam berorganisasi.
“Jangan jauh dari ulama, jangan jauh dari Allah SWT. Itulah pesan yang saya bawa pulang dari perjalanan ini,” tuturnya.