Sejarah Pengolahan Garam Pertama Sisa Kolonial Belanda di Sampang

  • 28 Apr 2025 21:20 WIB
  •  Sampang

KBRN, Sampang: Desa Krampon di Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, menyimpan jejak sejarah kolonial dengan adanya perumahan bekas bangunan Belanda di atas lahan eks-HGU PT Garam.

Pemukiman ini diperkirakan mulai berkembang sejak awal hingga pertengahan abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda membangun berbagai infrastruktur strategis di Madura, termasuk perumahan dan fasilitas pendukung untuk industri garam. Sisa-sisa bangunan ini tidak hanya mencerminkan perjalanan sejarah, tetapi juga memegang potensi besar untuk mengangkat desa tersebut menjadi destinasi yang berdaya tarik tinggi di Madura. Hal tersebut diungkap oleh Muhammad Sahrim 76 tahun warga Desa Krampon Kecamatan Torjun Sampang, Senin (28/4/2025).

"Sisa bangunan Belanda tersebut berupa waduk penampungan air. Bangunan ini merupakan bagian dari bangunan pompa air atau filterasi air. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan ini berfungsi sebagai sentra aliran air yang dialirkan kepada penghuni perumahan PN Garam untuk kebutuhan hidup maupun bercocok tanam,"terangnya.

Ia menyampaikan desa Krampon ini menjadi salah satu basis penting bagi penjajah Belanda dalam pengelolaan produksi garam di Madura. Pada masa kolonial Hindia Belanda, kawasan ini dipilih sebagai lokasi pembangunan pabrik pengolahan garam.

"Garam yang diproduksi berasal dari dua desa penghasil utama, yakni Desa Ragung dan Pangarengan. Krampon dipilih karena letaknya yang strategis serta akses transportasi yang memadai pada saat itu, memungkinkan distribusi garam ke berbagai daerah," jelasnya.

Kata dia bangunan pabrik dan perumahan pegawai Belanda pun didirikan dengan arsitektur khas Eropa yang hingga kini masih berdiri kokoh, meski usia bangunan telah melampaui satu abad.

"Beberapa rumah yang dulunya dihuni oleh teknisi dan pejabat Belanda kini ditempati oleh eks pegawai PT Garam hingga turun temurun, perusahaan milik negara yang mengambil alih pengelolaan pasca kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pasukan Belanda perlahan mulai meninggalkan wilayah-wilayah kekuasaannya, termasuk di Sampang," imbuhnya.

Kampung yang dulunya ramai oleh aktivitas kolonial pun berubah menjadi kawasan pemukiman yang tenang.

"Namun, sisa-sisa kejayaan masa lalu masih tampak jelas dari struktur bangunan, jalan rel kereta api, tanah seluas 12 hektare, lapangan sepak bola, hingga tempat penampungan air masih ada di daerah tersebut. Bahkan dulunya, Desa Krampon merupakan kota pertama yang ada di Kabupaten Sampang. Sementara di pusat Kota Bahari kala itu masih belum ada penerangan (listrik) dan jalan belum diaspal," ucapnya.

Sementara Penjabat Kepala Desa Krampon, Sudarsono, menyampaikan bahwa Kampung Belanda kini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung yang ingin melihat langsung bukti sejarah kolonial di Sampang.

"Sebagian besar warga yang tinggal di kawasan tersebut merupakan keturunan atau keluarga dari pegawai PT Garam. Keberadaan mereka turut menjaga dan merawat bangunan peninggalan sejarah tersebut agar tidak rusak termakan zaman," ungkapnya.

Saat ini diakui Pj Kades Krampon, bahwa ada sekitar 50 sampai 70 kepala keluarga yang masih menempati rumah peninggalan Belanda tersebut. Bahkan, ada yang sudah melakukan renovasi rumah peninggalan Belanda tersebut, namun tidak mengubah bentuk keaslian bangunan

"Kampung Belanda di Karampon bukan sekadar saksi bisu masa lalu, tetapi juga potensi lokal yang menyimpan nilai sejarah tinggi. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menjadi jendela pembelajaran sejarah kolonialisme serta perkembangan industri garam di Madura,"jelas Sudarsono.

Bahkan terkait kampung belanda ini, Pemerintah Kabupaten Sampang menerima kunjungan 10 wisatawan dari Norwegia. Mereka menikmati aneka potensi budaya di Kabupaten Sampang, salah satunya menikmati suasana Desa Wisata Kampung Belanda, di Desa Krampon kecamatan torjun. Desa ini merupakan desa peninggalan Belanda yang mempunyai komposisi desa dan bangunan yang autentik. Hal ini diungkap oleh Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar Sampang, Endah Nirsiskawati.

"Kampung Belanda mempunyai keunikan autentik khas Belanda, terdapat 70 rumah Belanda yang masih dihuni, 24 rumah besar milik petinggi Belanda di area depan dan samping, ukuran ini diperuntukkan sesuai dengan jabatan petinggi Belanda pada zamannya. Kampung ini juga memiliki bangunan autentik yang dahulu berfungsi sebagai gedung bioskop, kafe, pengolahan air, lapangan tenis, lapangan voli hingga lapangan sepakbola," ucap Endah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....