Kisah Nenek di Ujung Kampung Bangkalan Sukses Pertahankan Juragan Desa
- 27 Jun 2026 09:43 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Bangkalan - Di sebuah ruangan kecil berwarna cerah di Desa Kombangan, Kecamatan Geger, Bangkalan, kehidupan ekonomi rakyat berdenyut pelan namun pasti. Hari Jumat, 26 Juni 2026, jam dinding menunjukkan pukul 09.55 WIB. Angka yang bagi sebagian orang hanyalah waktu, namun bagi warga desa adalah tanda dimulainya roda kehidupan. Seorang petugas duduk di balik meja bertuliskan “Melayani dengan setulus hati”, sementara dua nasabah berdiri di depan menunggu transaksi mereka diselesaikan.
Suara mesin transaksi berpadu dengan percakapan ringan, menciptakan harmoni antara teknologi dan kepercayaan. Agen BRILink ini bukan sekadar tempat menarik uang atau isi saldo e-wallet, ia adalah simpul kepercayaan di tengah masyarakat, tempat di mana ekonomi digital bertemu dengan keramahan lokal. Kursi plastik hijau dan merah menjadi saksi bisu pertemuan warga petani, ibu rumah tangga, pedagang kecil semuanya datang dengan tujuan yang sama menggerakkan kehidupan.
BACA JUGA: Kisah Mantan TKI Berlabuh ke Jembatan Keuangan Desa
Di bawah spanduk besar bertuliskan “BRILink Agen” dan “Toko Jinab Siyah” menaungi sebuah warung sederhana bernama Warung Pojok. Di balik kaca, daftar menu menggoda, bakso iga sapi, nasi campur, ayam goreng, rawon, hingga gule. Kuliner dan keuangan berjalan beriringan, menjadikan warung kecil ini pusat interaksi, tempat orang mengisi perut sekaligus mengurus kebutuhan finansial.
Dan di balik semua itu, berdiri sosok Jinabsiyah, nenek berusia 60 tahun dengan dua cucu yang menjadi jantung keuangan desa. Dari warungnya yang sederhana, ia mempertahankan kelas Juragan sebagai agen BRILink, sebuah pencapaian yang lahir dari ketekunan dan kepercayaan masyarakat. Jinabsiyah bukan hanya melayani transaksi, tapi juga menjaga denyut ekonomi desa agar terus hidup dan berdaya.

Awal Perjalanan
Warung itu dirintis sejak anak pertamanya berusia 18 bulan. Puluhan tahun berlalu, hingga pada 2015 datang tawaran dari BRI Unit setempat. Awalnya ia ragu, tak terbiasa dengan pinjaman, tak berani menjaminkan sertifikat. Namun tabungan yang ia depositkan menjadi jalan pembuka.
BACA JUGA: Dari Sepeda Butut di Ujung Desa Lahirkan Jaring Pengaman Finansial
“Saya tak pernah pinjam, hasil warung dan gaji suami cukup. Tapi jalan itu akhirnya terbuka,” kenangnya.
Mesin BRILink pertama kali hadir, namun tiga bulan nyaris tak ada transaksi. Suami, Sanusi (66), hanya melihat dari jauh. Brosur pun dicetak, ditempel di pasar dan pohon-pohon sepanjang jalan. Perlahan, warga mulai datang, tarik tunai, bayar listrik, cicilan, hingga transfer uang.
“Kalau tidak dijalankan, tidak akan berkembang,” ujar Sanusi mengenang awal brosur disebar.
Duka dan Ujian Hidup
Tahun 2018 menjadi ujian terbesar. Saat menjalankan ibadah umroh, kabar duka datang, menantu wafat akibat kecelakaan. Puput Wulan Desi (39), anaknya yang seorang bidan sekaligus penjaga transaksi BRILink, kehilangan suami. Kehilangan itu begitu menghentak, membuat keluarga seakan terhenti langkahnya.
BACA JUGA: Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa
“Tujuh hari kemudian, kabar baik datang, Puput dipanggil menjadi PNS tanpa biaya, ditempatkan tepat di sebelah rumah. Allah memberi ujian, lalu memberi jalan. Saya ikhlaskan, dan saya jalani,” bisiknya penuh syukur.
Konsultan Warga
Nenek Jinabsiyah pPerannya melampaui sekadar agen. Ia menjadi konsultan warga desa. Dari menyiapkan dokumen, mengurus izin usaha, hingga mendampingi proses pengajuan pinjaman ke BRI, semua dilakukan tanpa meminta biaya.
“Saya tidak mau ambil uang capek. Yang penting setorannya dijaga, jangan menjelekkan nama baik saya di BRI,” pintanya.
Menurut Jinabsiyah banyak warga sekitar datang meminjam uang, bahkan dari kalangan ustadz, nyai, hingga pedagang kecil. Ada yang kembali, ada yang tidak. Namun ia tetap ikhlas, percaya bahwa rezeki adalah urusan Allah.

Juragan BRILink
Kini, Jinabsiyah menyandang kelas Juragan. Dengan volume transaksi lebih dari Rp4 juta per bulan, ia melayani rata-rata 80 nasabah setiap hari. Perputaran uang harian mencapai Rp200 juta. Nasabahnya beragam, minimarket hingga pengusaha rokok dan LPG yang rutin menyetor uangnya puluhan juta dalam seminggu dua kali. Ada pula pedagang sapi yang menarik tunai ratusan juta. Bahkan layanan meluas ke keluarga TKI dengan kerjasama pengiriman uang ke Malaysia.
“Kalau ada kendala ATM, nasabah larinya ke saya. Nangis-nangisnya ke saya, Alhamdulillah bisa saya bantu,” ujarnya.
Risiko dan Cerita Sedih
Suatu hari, seorang nasabah menarik tunai Rp10 juta. Namun karena terburu-buru, jari Ibu Jinab salah menekan angka. Di struk tercatat hanya Rp1 juta, sementara nasabah tetap menerima Rp10 juta. Akibatnya, saldo berkurang Rp9 juta begitu saja.
“Itu gara-gara keburu-buru, nolnya kurang satu, waktu itu rasnya panas dingin” kenangnya dengan nada pasrah.
Kasus itu sempat membuatnya panik. Ia mencoba mengadu ke bank, namun data nasabah tidak bisa diberikan. Hingga kini, uang itu tak pernah kembali. Namun ia memilih ikhlas, percaya bahwa rezeki akan kembali dengan cara lain.
“Kalau memang rezeki saya, pasti akan kembali dengan cara lain,” ucapnya.
Sementara itu, Puput Wulan Desi mengaku merasa senang dan bangga bisa membantu ibu di sela-sela kesibukannya di puskesmas. Sepulang dinas.
“Dari ibu saya belajar, kerja keras dan keikhlasan adalah kunci,” ucapnya.

Apresiasi dari BRI
Dari sisi perbankan, apresiasi juga datang. Satrio Maulana, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI BO Bangkalan, menyampaikan, dari 913 agen aktif di Bangkalan, nama Jinabsiyah menjadi teladan.
“Meski usianya sudah tidak muda lagi, semangat Bu Jinabsiyah untuk terus bertransaksi dan menghasilkan cuan patut dicontoh oleh teman-teman agen BRILink lain. Beliau bukan hanya agen, tapi juga konsultan dan tempat curhat masyarakat mengenai transaksi perbankan,” ujarnya
Cerita Jinabsiyah adalah potret nyata bahwa inklusi keuangan bisa lahir dari ruang sederhana. Dari warung pojok hingga agen BRILink, ia menjadikan usaha kecil sebagai jantung ekonomi desa. Bukan hanya melayani transaksi, tapi menjaga denyut kehidupan masyarakat agar tetap berdaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....