Produksi Garam Turun Drastis Akibat Cuaca
- 12 Des 2025 12:48 WIB
- Sampang
KBRN, Sampang: Produksi garam di Kabupaten Sampang, Madura, menurun signifikan sepanjang musim 2025 akibat cuaca yang tidak menentu. Dampaknya, harga garam di tingkat petani mengalami kenaikan dengan kualitas K2 mencapai Rp155 ribu per karung. Kenaikan harga terjadi di hampir seluruh wilayah penghasil garam.
BACA JUGA: Cas Ponsel Berujung Tragis, Bocah Meninggal
BACA JUGA: Kemacetan Depan RSUD Sampang Dikeluhkan Warga
Petani asal Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, Mohdi, menjelaskan bahwa peralihan musim menyebabkan gangguan proses penguapan di tambak. "Harga garam pada musim kemarau sempat berada di angka Rp115 ribu per karung. Memasuki musim hujan, harga naik menjadi Rp155 ribu. Sebelumnya, harga garam pernah berada di kisaran Rp125 ribu per karung,"jelasnya.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya pengaruh kuat dari pola cuaca terhadap produksi garam. Petani sering menghentikan proses pemanenan ketika hujan turun agar kristal garam tidak rusak.
BACA JUGA: Siaga, Peta Rawan Bencana Sampang Puncak Musim Hujan
"Untuk garam kualitas K1, harga tercatat berada di atas Rp150 ribu per karung. Petani menyampaikan bahwa kualitas K1 memerlukan proses yang lebih lama dan sangat bergantung pada intensitas sinar matahari. Ketika cuaca sering berubah, produksi K1 menjadi lebih sedikit,"jelasnya.
BACA JUGA: Operasi Zebra 2025, Ribuan Pelanggar Terjaring di Pamekasan
Menurut Mohdi, tahun ini hasil panen garam mengalami penurunan drastis. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan yang tersedia di tingkat petani. "Cuaca tidak teratur menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap turunnya kapasitas produksi.
Petani menyebut bahwa pada tahun lalu produksi jauh lebih baik. Dengan cuaca yang lebih stabil, proses pembentukan kristal garam berjalan lancar dan panen dilakukan lebih cepat. Namun pada tahun ini, hujan yang datang tiba-tiba membuat petani kesulitan mengatur pola produksi,"ucapnya.
Penurunan jumlah panen membuat petani harus menyiapkan anggaran tambahan untuk perawatan tambak. Beberapa petak bahkan mengalami kerusakan akibat genangan air yang terlalu lama. Hal ini semakin memperlambat proses produksi di lapangan.
"Ketersediaan garam yang berkurang membuat permintaan pasar sulit terpenuhi. Pedagang mengambil garam langsung dari petani untuk memastikan stok tetap aman. Kondisi ini memperkuat kenaikan harga di tingkat lokal," ujarnya.
Diaberharap musim kemarau mendatang dapat berlangsung lebih panjang agar produksi garam dapat kembali meningkat.
"Kami berharap pemerintah membantu upaya mitigasi cuaca untuk menjaga stabilitas produksi garam di wilayah Sampang,"tutupnya.