Menilik Kesetaraan Disabilitas dalam Perspektif Syariat Islam Modern
- 06 Mar 2026 05:14 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Banyak manusia yang masih menganggap aspek fisik dan kesempurnaan adalah segalanya. Namun, perspektif agama Islam justru menawarkan pandangan yang jauh lebih mendalam dan inklusif.
Agama menjadi kompas yang mensinkronkan hubungan antara pencipta, manusia, dan alam semesta untuk menciptakan harmonisasi kehidupan yang adil bagi setiap hamba tanpa terkecuali. Begitupun bagi para penyandang disabilitas.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman sekaligus Kepala Pusat Penelitian Hak Asasi Manusia Multikulturalisme Tropis (PUSHAM-MT), Mustafa. Ia mengatakan Islam hadir sebagai aturan yang selaras dengan fitrah manusia.
"Maka Allah ciptakanlah sebuah agama, yaitu di sini adalah agama Islam. Yang mana agama di sini adalah bersumber kepada Al-Qur'an yang Al-Qur'an itu pun ciptaan Allah juga seperti itu. Ada sinkronisasi antara manusia, Al-Qur'an, dan bumi yang kita pijak ini. Semuanya adalah ciptaan Allah, sehingga aturan yang diturunkan pasti harmonis dengan kondisi manusia sebagai implementornya," kata Mustafa.
Mustafa juga menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak pernah memberikan ruang diskriminasi fisik maupun intelektual. Standar kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah bersifat tunggal dan universal.
"Di dalam Al-Qur'an, tidak ada sedikit pun ungkapan membedakan manusia dari aspek fisik. Standarisasi Allah bukan harta, pangkat, atau fisik, melainkan hanya takwa," ujarnya.
Realisasi ketakwaan tersebut tercermin dalam keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan antarmanusia). Ia berpendapat bahwa siapa pun, dari komunitas mana pun, dan apa pun bentuk badannya, memiliki peluang yang sama untuk menjadi hamba yang mulia selama mereka berpegang teguh pada aturan Tuhannya.
Lebih jauh, Mustafa menceritakan betapa istimewanya kedudukan penyandang disabilitas di masa kenabian. Seorang Abdullah bin Ummi Maktum, yang merupakan seorang tuna netra, bahkan diberikan kepercayaan besar oleh Rasulullah untuk menjadi imam salat dan pengganti peran Nabi saat beliau sedang tidak berada di tempat. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam Islam tidak ada kasta. Seseorang yang tidak bisa melihat pun bisa menjadi imam besar.