Ramadan di Ibu Kota: Tradisi, Tantangan, dan Hangatnya Kebersamaan
- 12 Mar 2026 12:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Bulan suci ini tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial melalui berbagai tradisi, kebiasaan, serta aktivitas khas masyarakat. Dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda, berbagai kisah dari perantau Indonesia dibagikan untuk menggambarkan bagaimana Ramadan dijalani di kota lain.
Salah satu narasumber dalam perbincangan ini adalah Ida Darmata, seorang perantau asal Samarinda yang kini bekerja sebagai reporter di sebuah televisi nasional di Jakarta. Sejak tahun 2022 ia menetap di ibu kota dan merasakan langsung bagaimana suasana Ramadan di kota metropolitan tersebut. Ia mengatakan, kesibukan kota besar membuat Ramadan terasa dinamis, namun tetap memiliki kehangatan tersendiri. “Kalau dengar Ramadan di Jakarta, yang langsung kepikiran itu takjilnya banyak sekali. Pilihannya juga beragam, dari jajanan tradisional sampai makanan modern yang viral,” ucap Ida, pada Kamis 12 Maret 2026
Menurut Ida, berburu takjil menjadi salah satu pengalaman khas Ramadan di Jakarta. Pasar takjil dapat ditemukan di berbagai wilayah, salah satunya yang paling populer adalah kawasan Bendungan Hilir (Benhil). Selain itu, muncul pula pasar Ramadan dadakan di beberapa tempat yang menawarkan makanan kekinian untuk menarik minat anak muda. “Kalau di Benhil itu lebih banyak jajanan tradisional. Tapi kalau di daerah seperti Kebon Jeruk, banyak juga stand yang jual makanan modern seperti dimsum mentai atau bomboloni yang lagi viral,” katanya.
Selain kuliner, Jakarta juga memiliki berbagai tradisi yang masih dilakukan saat Ramadan. Salah satunya adalah munggahan, tradisi makan bersama sebelum memasuki bulan puasa yang berasal dari budaya Sunda. Tradisi ini kini banyak dilakukan oleh masyarakat Jakarta, termasuk di lingkungan kerja. “Biasanya kita kumpul bareng teman kantor, bawa makanan, terus makan bersama sebelum puasa. Itu jadi momen silaturahmi juga,” kata Ida.
Ada pula tradisi Betawi yang dikenal dengan sebutan nyorog, yakni kebiasaan membawa makanan kepada orang tua atau keluarga sebagai bentuk penghormatan dan menjaga hubungan kekeluargaan. Tradisi-tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga nilai kebersamaan selama Ramadan.
Meski begitu, Ramadan di Jakarta juga memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait mobilitas masyarakat. Menjelang waktu berbuka, jalanan ibu kota kerap dipadati kendaraan karena banyak orang pulang kerja atau menuju acara buka bersama. “Yang paling terasa bedanya mungkin macetnya. Menjelang buka puasa biasanya jalanan sudah sangat padat karena orang-orang pulang kerja atau cari takjil,” ujarnya.
Di tengah kesibukan kota besar, Ida melihat Ramadan tetap menghadirkan nilai kebersamaan yang kuat. Bahkan di transportasi umum, masyarakat sering berbagi makanan saat waktu berbuka tiba. Hal-hal sederhana seperti itu menurutnya menjadi cerminan solidaritas masyarakat. Ida berharap tradisi Ramadan yang ada tetap dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. “Harapannya tradisi seperti munggahan atau nyorog tetap dilakukan dan diperkenalkan ke generasi selanjutnya, supaya silaturahmi tetap terjaga dan kebersamaan itu terus ada,” ucapnya.