Edukasi K3 Kunci Pertanian Berkelanjutan

  • 21 Feb 2026 00:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi fondasi penting dalam setiap aktivitas pertanian. Di tengah peran strategis sektor ini sebagai penopang ketahanan pangan, kesehatan dan keselamatan petani tidak boleh diabaikan. Terlebih bagi petani pisang yang setiap hari bergelut dengan risiko fisik, paparan bahan kimia, hingga ancaman biologis di kebun.

Topik ini menjadi pembahasan dalam Program Suara Nusantara Pro 1 RRI Samarinda, Rabu 18 Februari 2026, bersama narasumber Bachrian Pebriyadi, dari Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur. Dalam perbincangan tersebut ditegaskan, K3 bukan hanya milik sektor industri besar, melainkan hak seluruh pekerja termasuk petani.

Menurut Bachrian, regulasi tentang K3 telah diatur dalam undang-undang dan berlaku bagi semua pekerja. “K3 ini bukan hanya urusan pabrik atau proyek besar. Petani juga berhak atas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Namun sering kali dianggap sepele dan diabaikan,” ujarnya dalam siaran tersebut.

Di kebun pisang, risiko kecelakaan kerja sangat beragam. Mulai dari terpeleset di lahan yang licin, tertimpa tandan pisang yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram, hingga luka akibat alat tajam seperti parang dan golok. Selain itu, paparan pupuk dan pestisida juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila tidak digunakan sesuai prosedur.

Bahaya biologis pun tak kalah mengancam. Gigitan ular, sengatan serangga, hingga paparan jamur dan bakteri dapat terjadi sewaktu-waktu. Ditambah lagi risiko ergonomis akibat posisi kerja yang salah, seperti membungkuk terlalu lama atau mengangkat beban tanpa teknik yang benar, yang dapat menyebabkan cedera punggung dan gangguan otot.

Ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) sebagai langkah pencegahan sederhana namun efektif. “Petani bisa menggunakan sarung tangan, baju lengan panjang, topi, dan sepatu boot. Selain itu, peralatan seperti parang atau golok harus dalam kondisi tajam dan terawat agar tidak membahayakan saat digunakan,” ucapnya.

Dalam dialog tersebut, beberapa pendengar juga menyoroti pentingnya edukasi K3 bagi mahasiswa dan petani mandiri. Menanggapi hal tersebut, BRMP Kaltim bersama dinas terkait telah melaksanakan program sekolah lapang bagi petani pisang di wilayah Jembayan. Program ini memasukkan materi K3 dalam kurikulumnya, melibatkan penyuluh pertanian dan akademisi.

“Kami siap berkolaborasi dengan perguruan tinggi untuk memasukkan K3 dalam kurikulum pertanian. Tidak hanya untuk petani pisang, tetapi semua subsektor pertanian. Tujuannya agar petani tetap sehat, selamat, dan produktif,” kata Bachrian.

Pembahasan ini menegaskan, pertanian berkelanjutan tidak hanya berbicara soal hasil panen, tetapi juga tentang perlindungan bagi para pelakunya. Petani yang sehat dan aman adalah kunci utama keberhasilan pertanian Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur.

Rekomendasi Berita