Filosofi Sajian Imlek, Simbol Rezeki dan Harmoni
- 16 Feb 2026 11:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Umat Konghucu tidak hanya menjalankan ibadah doa, tetapi juga menyiapkan berbagai persembahan yang disusun rapi di atas meja altar. Sajian berupa buah-buahan, kue, hingga makanan tertentu menjadi bagian penting dalam ritual, sebagai simbol penghormatan kepada Tuhan (Thian), para Nabi, dan leluhur.
Pemilihan makanan untuk sajian di meja altar tidak boleh sembarangan. Sebab, setiap persembahan memiliki makna dan doa yang berbeda-beda.
Wakil Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Kalimantan Timur sekaligus rohaniwan, Jiao Sheng (Js) David Hermanto, menjelaskan tradisi persembahan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Konghucu.
"Agama Konghucu ini erat dengan namanya sajen-sajen sembahyang,” ujar David saat ditemui usai ibadah Imlek di Kelenteng Zhong He Miao, Komplek Religi Center Samarinda, Minggu, 15 Februari 2026.

Ia mengungkapkan, sajian yang diletakkan di altar umumnya berupa buah-buahan seperti jeruk, semangka, apel, pisang serta kue-kue khas sembahyang. Setiap jenis persembahan memiliki makna positif yang diambil dari pelafalan dalam bahasa Tionghoa.
"Seperti apel itu píng guǒ, kita ambil 'ping'-nya, píng'ān yang dalam bahasa mandarin artinya sehat selalu," kata Js. David.
Sementara, buah semangka dipilih karena banyak bijinya. Hal ini menyiratkan harapan agar dikaruniai keturunan yang banyak pula.
Tak hanya itu, pisang raja juga kerap disusun di altar dalam bentuk bersisir dan dipasang berpasangan. Susunan tersebut, ungkap Js. David, melambangkan harapan agar rezeki dapat “tertangkap” dan mengalir dengan baik kepada keluarga.
Selain buah, kue-kue tradisional seperti wajik dan kue berbentuk kura-kura juga menjadi bagian dari persembahan. Menurut David, karakteristik kedua kue tersebut yang manis dan lengket melambangkan keharmonisan serta kekuatan ikatan keluarga.
“Artinya supaya keluarga semakin merekat, semakin menyatu,” kata dia.

Di samping sajian buah dan kue, juga terdapat persembahan hewan, seperti ayam, ikan bandeng, dan daging babi. Tradisi ini memiliki latar belakang sejarah dalam perkembangan ajaran Konghucu.
Js. David menjelaskan, pada zaman dulu di Tiongkok, upacara besar hanya boleh digelar oleh kaisar atau pejabat. Biasanya, dalam upacara akan disajikan sapi, kambing, dan babi masing-masing satu ekor.
Seiring waktu, tradisi tersebut kemudian disederhanakan oleh Nabi Konghucu (Kongzi), agar dapat dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Karena dulu lebih kompleks, jadi diganti menjadi satu ekor ayam, ikan bandeng dan daging babi," ucapnya.
Melalui persembahan di meja altar, umat Konghucu tidak hanya menjalankan ritual, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai kehidupan. Di momen Imlek 2577 Kongzili, tradisi ini menjadi sarana untuk menanamkan harapan akan kesehatan, kesejahteraan, keharmonisan keluarga, serta keberkahan di tahun yang baru.