Cinta Tanpa Syarat Dalam Asuhan Anak Disabilitas Netra
- 18 Jan 2026 15:32 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menjadi orang tua adalah proses belajar tanpa henti. Namun bagi sebagian orang, perjalanan itu dimulai dari titik yang mengubah seluruh cara pandang tentang kehidupan. Itulah yang dialami Ibu Asnidar, seorang ibu di Samarinda yang membesarkan anaknya penyandang disabilitas netra. Kisahnya dibagikan dalam program Sudut-Sudut Kehidupan Pro 1 RRI Samarinda, sebagai potret keteguhan seorang ibu dalam menghadapi kenyataan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Saat sang buah hati, Izam, lahir, tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Namun seiring waktu, pertanyaan dan kecemasan mulai muncul. Kekhawatiran tentang masa depan, kebahagiaan, dan kemandirian anak menjadi beban emosional yang harus dihadapi orang tua. Bagi Ibu Asnidar, fase awal ini dipenuhi ketidaktahuan dan harapan yang perlahan diuji oleh realitas medis.
Ibu Asnidar menuturkan bahwa kondisi gangguan penglihatan Izam baru diketahui saat usianya menginjak tiga bulan. “Tahu keadaannya seperti itu di umur tiga bulan, Pak. Awalnya tidak kelihatan apa-apa, tapi setelah itu mulai terlihat sampai umur enam bulan kami berjuang, bolak-balik rujukan karena penanganan di Samarinda belum ada,” ujarnya. Izam yang lahir prematur akhirnya harus dirujuk hingga ke Bandung demi mendapatkan penanganan lanjutan.
Perjuangan itu mencapai titik terberat ketika diagnosis pasti disampaikan dokter. Harapan yang semula masih ada perlahan runtuh. Jauh dari keluarga dan hanya ditemani suami, Ibu Asnidar harus menghadapi kenyataan pahit tentang kondisi anaknya. “Begitu dokter menyatakan saraf matanya tidak bisa sama sekali, rasanya hancur. Hancur sehancur-hancurnya, apalagi kami jauh dari keluarga,” ucapnya dengan jujur.
Di tengah keterpurukan itu, dukungan keluarga menjadi kekuatan utama. Suami dan anak-anaknya menerima kondisi Ijam tanpa syarat, membantu dan mendampingi dengan penuh kasih. Dukungan emosional tersebut menjadi fondasi penting agar Ibu Asnidar mampu bangkit dan melanjutkan perjuangan mendampingi sang buah hati.
Tantangan berikutnya adalah memastikan Izam tetap mendapatkan hak belajar dan berkembang. Minimnya akses layanan dan tenaga pendidik khusus untuk penyandang disabilitas netra di daerah membuat orang tua harus berinisiatif sendiri. Ibu Asnidar mencari informasi secara mandiri, bahkan hingga luar daerah, demi mengenalkan alat bantu dan pembelajaran sejak dini.
Teknologi menjadi salah satu pintu harapan, meski tidak mudah diakses. Pembelajaran huruf braille dilakukan secara daring dengan guru dari luar kota karena keterbatasan tenaga pengajar di Samarinda. Upaya ini menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat orang tua untuk terus membuka peluang bagi anaknya.
Dalam keseharian, menjaga kesehatan mental menjadi hal yang tak kalah penting. Ibu Asnidar memilih menyingkirkan kesedihan dan menggantinya dengan tujuan jangka panjang: membangun kemandirian dan kepercayaan diri anak. Ia ingin memastikan Ijam mampu menghadapi dunia dengan mental yang kuat, apa pun lingkungan yang kelak ia hadapi.
Kisah Ibu Asnidar menjadi pengingat bahwa disabilitas bukan semata soal keterbatasan individu, melainkan tentang kesiapan lingkungan untuk menerima. Anak-anak penyandang disabilitas memiliki potensi dan progres masing-masing jika didukung dengan kasih, akses, dan kesempatan yang setara. Dari sudut kecil kehidupan ini, kita belajar bahwa cahaya tidak selalu datang dari mata yang melihat, tetapi dari hati yang menerima dan tak pernah menyerah.