Perjuangan Asnidar Dampingi Anak Disabilitas Netra

  • 14 Jan 2026 14:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Perjalanan emosional panjang dialami Asnidar, orang tua dari Izam, anak penyandang disabilitas netra. Kondisi tersebut baru diketahui saat Izam berusia tiga bulan, setelah sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan penglihatan sejak lahir.

Asnidar menceritakan, Izam lahir prematur pada usia kandungan delapan bulan di Samarinda. Pada awalnya, kondisi mata Izam tampak normal. Namun, memasuki usia tiga bulan, perubahan mulai terlihat hingga akhirnya diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

“Awalnya diketahui dari Puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit. Karena penanganannya belum tersedia di Samarinda, kami dirujuk ke Rumah Sakit Cicendo Bandung,” ujarnya saat diwawancarai dalam program Samarinda Siang RRI Pro 1 Samarinda, dikutip laman youtube RRI Samarinda, Rabu 14 Januari 2026.

Baca juga: PPDI Samarinda Tekankan Peran Orang Tua Anak Disabilitas

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif hingga tindakan operasi, dokter menyatakan saraf mata Izam tidak dapat berfungsi. Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi Asnidar dan keluarga, terlebih karena harus menjalani proses pengobatan jauh dari kampung halaman.

“Rasanya hancur sekali saat itu. Kami berjuang di Bandung hanya bertiga bersama suami dan Izam, jauh dari keluarga,” katanya.

Izam merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dukungan keluarga, terutama dari suami dan anak-anak lainnya, menjadi kekuatan utama bagi Asnidar untuk tetap bertahan dan bangkit menghadapi kondisi tersebut.

“Keluarga adalah penopang terbesar saya. Suami dan anak-anak menerima Izam apa adanya dan selalu mendukung,” katanya, menuturkan.

Dalam proses pengobatan, Asnidar mengaku terbantu dengan adanya jaminan kesehatan BPJS, meski tantangan mental dan fisik tetap menjadi ujian tersendiri. Ia berharap kisahnya dapat menjadi penguat bagi orang tua lain yang menghadapi kondisi serupa, agar tidak merasa sendiri dan tetap memiliki harapan.

Rekomendasi Berita