Cinta dan Perjuangan Orang Tua dengan Anak Autis
- 11 Jan 2026 08:35 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika dunia terasa retak dan langit tak lagi biru seperti yang dibayangkan. Namun dari celah-celah itulah sering lahir kekuatan, kesabaran, dan cinta yang bekerja tanpa pamrih. Program Sudut-Sudut Kehidupan Pro 1 RRI Samarinda menghadirkan kisah menyentuh tentang perjuangan seorang ibu dalam mendampingi anak dengan autisme, yang dibagikan oleh Irma Riani, penulis buku Saat Dunia Retak dan Langit Tak Lagi Biru.
Dalam perbincangan tersebut, Irma menegaskan, autisme bukanlah penghalang untuk berprestasi. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi selama lingkungan mau menerima dan memberi ruang yang setara. “Kita sebagai warga belajar bahwa autisme ini tidak menjadi hambatan untuk berprestasi, selama lingkungan mau menerima. Autisme justru mengajarkan kita tentang kesabaran dan arti menghargai perbedaan,” ujarnya dikutip rri.co.id pada Minggu (11/1/2026).
Buku yang ditulis Irma merupakan kisah nyata tentang perjalanan hidupnya mendampingi anak berkebutuhan khusus. Semua liku perjuangan, jatuh bangun emosi, hingga harapan yang terus dirawat dituangkan dalam bentuk tulisan. Ia menyebut buku tersebut sebagai warisan cinta untuk sang anak, sekaligus penguat bagi orang tua lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar tidak merasa berjalan sendirian.
Awalnya, menulis hanya menjadi kebiasaan pribadi Ibu Irma sejak masa sekolah. Catatan-catatan sederhana itu kemudian berubah menjadi ruang pelarian emosional ketika ia mengetahui diagnosis anaknya sebagai penyandang autisme. Dari hari ke hari, ia menuliskan kejadian kecil, momen bahagia, hingga rasa sedih yang dialami keluarga, sebelum akhirnya memberanikan diri membukukannya dan menerbitkannya pada Juli 2025.
Irma mengenang masa awal tumbuh kembang anaknya yang tampak normal hingga usia satu tahun. Namun ada satu fase yang terlewat, yaitu merangkak, yang kemudian hari menjadi benang merah diagnosis autisme. Setelah usia satu tahun, kemampuan berbicara dan respons anak perlahan menghilang. Fase tersebut menjadi titik awal pergolakan batin yang tidak mudah dilalui oleh seorang ibu.
Ia mengakui, masa-masa awal dipenuhi penolakan, kesedihan, dan pertanyaan tentang keadilan hidup. Stigma dan komentar lingkungan kerap melukai, bahkan datang dari orang-orang terdekat. Namun dari proses refleksi bersama pasangan, Ibu Irma memilih bangkit dan berjuang, karena waktu terus berjalan dan anak membutuhkan kehadiran orang tua yang kuat secara mental.
“Yang paling penting bagi orang tua anak berkebutuhan khusus adalah berjiwa besar menerima kehadiran anak. Jangan fokus pada kekurangannya, tapi lihat kelebihannya. Energi positif orang tua itu akan menular kepada anak, dan tidak ada usaha yang berkhianat pada hasil,” kata Irma dengan penuh keyakinan.
Perjuangan itu kini membuahkan hasil. Sang anak yang kini berusia 13 tahun mengenyam pendidikan di sekolah inklusif dengan pendampingan khusus sesuai kebutuhannya. Setiap perubahan kecil menjadi sumber semangat baru bagi keluarga. Bagi Ibu Irma, kemajuan sekecil apa pun adalah keajaiban yang menguatkan keyakinannya untuk terus melangkah.
Di akhir perbincangan, Irma menyampaikan pesan mendalam bagi para orang tua anak berkebutuhan khusus. Baginya, memiliki anak istimewa bukanlah musibah, melainkan kehormatan dan amanah. Perjalanan ini bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang keberanian menerima, belajar bersabar yang bekerja, mencintai tanpa menuntut, dan bersyukur sejak awal. Dari sudut-sudut kehidupan inilah, makna keteguhan dan cinta orang tua menemukan bentuknya yang paling nyata.