Rekor Sejarah dan Volatilitas Harga Perak Dunia

  • 05 Feb 2026 07:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pergerakan harga perak dunia mengalami volatilitas tinggi pada awal Februari 2026 setelah sempat mencatatkan rekor sejarah pada bulan sebelumnya. Kondisi pasar saat ini berada dalam fase pemulihan yang dinamis pasca terjadinya aksi jual besar-besaran di bursa komoditas global.

Hingga 4 Februari 2026, harga perak dunia untuk pasar spot diperdagangkan di kisaran US$ 84,35 hingga US$ 91,72 per troy ons. Data perdagangan menunjukkan adanya pemulihan harga sekitar 5 hingga 8 persen dari aksi jual tajam yang terjadi pada awal pekan.

Pada Januari 2026, harga perak dunia sempat menembus level tertinggi sepanjang masa atau All-Time High di angka US$ 121,64 per troy ons. Namun, posisi rekor tersebut langsung diikuti koreksi tajam yang membuat harga bergerak fluktuatif dalam waktu singkat.

Kenaikan harga ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait insiden drone di Laut Arab yang dilaporkan oleh U.S. Energy Information Administration (EIA). Selain itu, defisit pasokan struktural untuk industri teknologi ramah lingkungan turut menjadi faktor penekan utama.

Meskipun fundamental industri cukup kuat, harga perak dunia sempat anjlok hingga 40 persen dalam dua hari akibat adanya likuidasi paksa di pasar berjangka. Fenomena teknis ini sempat menekan harga ke titik rendah sebelum akhirnya para pembeli kembali melakukan aksi beli saat harga dianggap kompetitif.

Dampak dari dinamika harga perak dunia ini juga terasa hingga ke pasar domestik Indonesia melalui penyesuaian harga logam mulia lokal. Harga perak di dalam negeri terpantau merangkak naik mengikuti tren global dan berada di kisaran Rp 54.500 per gram pada 4 Februari 2026.

Analis pasar komoditas memperkirakan dalam jangka pendek harga perak dunia akan mulai stabil di kisaran US$ 86 hingga US$ 94. Proyeksi ini didasarkan pada mulai masuknya kembali permintaan fisik dari sektor industri manufaktur dan teknologi hijau global.

Namun, lembaga keuangan JPMorgan dalam Laporan Pasar Komoditas Februari 2026 memberikan peringatan adanya potensi penurunan harga kembali ke level US$ 50. Pihak JPMorgan menekankan bahwa reli harga ini harus didukung fundamental yang kuat agar tidak terjadi koreksi susulan yang lebih dalam.

Ketidakpastian jalur perdagangan internasional juga menjadi perhatian serius bagi otoritas dalam negeri terkait stabilitas harga perak dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI menghimbau pelaku usaha untuk mewaspadai fluktuasi ini karena berdampak langsung pada biaya logistik internasional.

Bank Indonesia dalam Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter turut memantau pergerakan harga perak dunia sebagai bagian dari pengendalian inflasi barang yang harganya fluktuatif. Pengawasan ini dilakukan guna memitigasi dampak rambatan ekonomi global terhadap stabilitas moneter nasional.

Penyajian harga retail di Indonesia sendiri tetap merujuk pada ketentuan perpajakan nasional yang berlaku bagi transaksi komoditas logam mulia. Hal ini sesuai dengan regulasi PMK No. 48 Tahun 2023 yang mengatur tentang PPh Pasal 22 atas transaksi logam mulia jenis emas dan perak.

Secara keseluruhan, stabilitas harga perak dunia masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah dan pemulihan stok fisik global. Para pelaku investasi diharapkan tetap berhati-hati mengingat tingginya risiko volatilitas yang terjadi di awal tahun ini.

Rekomendasi Berita