Akademisi Ungkap Karakter Disruptif Generasi Z

  • 12 Mar 2026 12:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kata Generasi Z atau Gen Z sangat sering disebut sebagai karakter kelompok usia dari rentang tahun 1997 hingga 2012. Bahkan, kelompok usia ini menjadi diskusi hangat di beberapa kalangan karena perilaku mereka yang cenderung unik.

Hal ini disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Takdir Ali Mukti, dalam siaran Dialog Ramadan bersama RRI. Ia mengatakan karakter Gen Z sangatlah disruptif jika dibandingkan dengan pendahulunya.

"Banyak sudah penelitian-penelitian yang berbicara tentang genzi dan sifatnya yang disruptif sebenarnya kalau dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Jadi generasi ini ciri-cirinya itu dia kalau berkomunikasi dengan senior-senior yang lahir kira-kira tahun 60, banyak enggak nyambungnya," kata Takdir.

Karakter utama yang melekat pada Gen Z adalah status mereka sebagai native digital technology atau karakter yang menguasai teknologi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus beradaptasi dengan teknologi, Gen Z tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang sepenuhnya digital.

"Mereka mempersonalisasikan digital sebagai bagian dari dirinya. Dia tidak bisa pisah itu. Kalau cuma lupa dompet, dia enggak akan balik rumah. Tapi kalau enggak bawa HP, dia akan balik, ambil motor, pulang lagi," ujarnya.

Secara sosiologis, kebiasaan digital ini mengubah cara Gen Z berkomunikasi, terutama dengan generasi senior kelahiran tahun 1960-an. Ada pergeseran nilai yang mencolok dalam interaksi keluarga. Jika dahulu seorang cucu merasa segan dan takut saat dinasihati atau dimarahi kakeknya, Gen Z justru sebaliknya. Mereka tidak sungkan untuk balik mendebat atau memarahi orang tua maupun kakek-neneknya.

Takdir menjelaskan, sejak usia 10 tahun rata-rata Gen Z sudah mengenal pemakaian media sosial. Kedekatan yang intens dengan media sosial ini melahirkan apa yang disebut sebagai skip behavior, perilaku melewatkan yang dilahirkan melalui platform digital.

Seseorang hanya butuh waktu sekitar 3 detik untuk menentukan apakah mereka menyukai sebuah konten atau tidak. Jika tidak suka, mereka akan segera menggeser atau melakukan "skip".

Pola reaksi cepat ini kemudian terbawa ke dalam interaksi sosial di dunia nyata. "Efek dari karakter skip, dia akan melakukan perilaku skip behavior untuk sesuatu yang dia tidak sukai dalam hubungan sosial. Kalau kakeknya menasihati panjang-panjang, dia akan segera skip dari perhatiannya," katanya.

Ia mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam membimbing Gen Z agar pesan moral tetap tersampaikan tanpa memicu reaksi skip. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi para pendidik dan orang tua untuk menemukan pola komunikasi yang tepat bagi generasi Z.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita