Bule Jerman Kepincut Tari Aceh Saat Berkunjung ke Sabang

  • 08 Sep 2026 15:14 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Gerakan tangan belum sepenuhnya seragam. Beberapa mahasiswa tampak memperhatikan dengan serius ketika gerakan berikutnya diperagakan di hadapan mereka. Sesekali tawa terdengar ketika mereka mencoba mengikutinya.

Senin sore, 7 September 2026, Arena Sabang Fair berubah menjadi ruang belajar budaya. Sebanyak 22 mahasiswa asal Jerman mencoba mengenal tari tradisional Aceh secara langsung bersama Sanggar Dance Kilometer Nol.

Mereka datang bersama seorang dosen pendamping. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan para mahasiswa itu ikut berdiri dan mempraktikkan gerakan tari yang diperagakan di depan mereka.

Ada yang cepat mengikuti, ada pula yang harus mengulang beberapa kali. Perbedaan kemampuan itu tidak membuat suasana menjadi canggung. Justru rasa penasaran membuat mereka terus mencoba.

Ketua Sanggar Dance Kilometer Nol, Muhammad Deni Gunawan, S.Pd., menjadi salah satu orang yang mendampingi mereka dalam proses tersebut. Deni memperkenalkan dua tari tradisional Aceh, yakni Ranup Lampuan dan Likok Pulo.

Deni mengatakan, keinginan mahasiswa tersebut untuk belajar tari Aceh sebenarnya sudah disampaikan jauh sebelum mereka tiba di Sabang.

"Jauh hari mereka sudah menyampaikan ingin belajar dan mengenal tarian Aceh. Jadi ketika mereka datang, kita siapkan kesempatan untuk mereka belajar langsung," kata Deni, Selasa 8 September 2026.

Keinginan itu kemudian diwujudkan di Arena Sabang Fair. Deni memperagakan gerakan dasar dan mengajak para mahasiswa mengikutinya. Bagi mereka yang belum pernah bersentuhan dengan tari Aceh, setiap gerakan menjadi pengalaman baru.

Perjumpaan itu berlangsung dalam suasana santai. Tidak ada jarak antara pelaku seni dan peserta. Bahasa tubuh menjadi cara paling mudah untuk saling memahami ketika penjelasan tidak selalu bisa diterjemahkan dengan cepat.

Deni melihat antusiasme para mahasiswa cukup tinggi. Mereka bahkan menyampaikan keinginan untuk kembali ke Sabang jika memiliki kesempatan. "Mereka sangat senang dan antusias ingin belajar. Mereka berharap bisa kembali lagi ke Sabang untuk mempelajari lebih mendalam tentang tarian Aceh," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, Bagi mahasiswa tersebut, belajar tari menjadi cara untuk mengenal Aceh dari sisi yang tidak selalu ditemukan dalam perjalanan wisata biasa.

Sabang selama ini lebih dikenal melalui laut, pantai, bawah laut, dan kawasan Kilometer Nol Indonesia. Namun demikian, di balik lanskap tersebut terdapat kebudayaan yang juga bisa menjadi pengalaman berharga bagi wisatawan. Tari Ranup Lampuan dan Likok Pulo menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenal kebudayaan itu.

Dengan mencoba gerakan secara langsung, para mahasiswa tidak hanya menjadi penonton. Mereka berusaha memahami bagaimana sebuah tarian dimainkan dan bagaimana tubuh mengikuti pola gerakan yang sebelumnya sama sekali asing bagi mereka. Hal kecil seperti kesulitan mengikuti gerakan justru menjadi bagian dari pengalaman. Mereka tertawa ketika salah langkah kemudian kembali memperhatikan contoh dan mencoba lagi.

Sementara bagi sanggar, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa seni tradisional Aceh memiliki daya tarik yang dapat menembus batas negara.

Ketertarikan mahasiswa asal Jerman itu tidak muncul secara tiba-tiba. Keinginan mereka untuk belajar sudah disampaikan sebelum perjalanan ke Sabang. Artinya, ada rasa ingin tahu terhadap budaya Aceh yang kemudian menemukan ruang untuk diwujudkan ketika mereka berada di Pulau Weh.

Deni berharap pertemuan seperti itu tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ia ingin semakin banyak wisatawan yang datang ke Sabang memiliki kesempatan mengenal seni tradisional secara langsung.

Bukan hanya melihat pertunjukan dari kejauhan, tetapi ikut belajar, mencoba, dan berinteraksi dengan para pelaku seni.

Sebab, pengalaman semacam itu meninggalkan cerita yang berbeda. Wisatawan tidak hanya membawa pulang foto dari sebuah destinasi, tetapi juga pengalaman tentang orang-orang yang mereka temui dan budaya yang sempat mereka pelajari.

Sore semakin berjalan. Para mahasiswa masih mengikuti gerakan yang diberikan. Tidak semua gerakan berhasil dilakukan dengan sempurna, namun tidak ada yang terlihat ingin berhenti.

Di tempat lain, mereka mungkin belajar tentang Aceh melalui tulisan atau penjelasan. Di Arena Sabang Fair, mereka mengenalnya dengan cara yang lebih sederhana: bergerak bersama.

Dari Jerman mereka datang ke sebuah kota kecil di ujung barat Indonesia. Di Sabang, mereka menemukan cara untuk mengenal Aceh melalui dua tarian tradisional.

Dan dari pertemuan singkat itu muncul satu keinginan sederhana: kembali lagi. Kembali bukan hanya untuk melihat Sabang, tetapi untuk belajar lebih jauh tentang budaya yang pada sore itu sempat mereka coba dengan langkah dan gerakan sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....