Pulau Weh, Surga Bawah Laut di Pertemuan Samudra Hindia, Andaman dan Selat Malaka
- 31 Agt 2026 18:08 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Perairan Pulau Weh di Kota Sabang telah lama menjadi magnet bagi penyelam, peneliti ekologi hingga fotografer bawah laut dari berbagai negara.
Di balik kejernihan air yang memikat, perairan Pulau Weh menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati laut yang menjadikannya salah satu kawasan penting bagi wisata bahari dan penelitian ekosistem laut.
Tingginya keanekaragaman hayati Pulau Weh dipengaruhi secara signifikan oleh lokasi geografisnya yang unik. Berada di ujung barat Indonesia, Pulau Weh terletak di kawasan pertemuan Samudra Hindia, Laut Andaman dan Selat Malaka.
Pertemuan massa air tersebut memengaruhi dinamika arus laut dan sirkulasi perairan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung produktivitas ekosistem laut di sekitar Pulau Weh.
Nutrisi dari perairan menjadi bagian penting dalam rantai makanan laut, mulai dari plankton, terumbu karang hingga berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.
Keunikan tersebut menjadikan Pulau Weh sebagai zona transisi biogeografi yang penting bagi ilmu pengetahuan. Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Oryx mencatat sedikitnya 133 spesies karang keras (scleractinian corals) menghuni perairan kawasan ini.
Keberadaan berbagai spesies tersebut juga menunjukkan posisi Pulau Weh dalam pertemuan wilayah biogeografi laut antara kawasan Samudra Hindia dan Pasifik.
Secara morfologi bawah laut, Pulau Weh dikelilingi terumbu karang tepi (fringing reef) dengan kontur yang beragam. Lanskap bawah lautnya mencakup tebing terjal untuk aktivitas wall diving hingga paparan terumbu yang lebih landai.
Struktur tersebut menjadi habitat bagi berbagai genus karang, termasuk Porites dan Acropora, serta beragam jenis ikan karang, moluska dan krustasea.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan kekayaan bawah laut merupakan salah satu kekuatan utama Sabang dalam mengembangkan wisata bahari.
Menurutnya, daya tarik wisata Sabang tidak hanya berada di kawasan daratan, tetapi juga pada ekosistem laut yang menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke Pulau Weh.
“Wisata bahari menjadi salah satu kekuatan Sabang. Kekayaan alam bawah laut ini harus kita jaga karena menjadi aset pariwisata sekaligus bagian dari identitas Sabang,” ujar Harry Senin 31 Agustus 2026.
Ia mengatakan pengembangan pariwisata bahari perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Pertumbuhan kunjungan wisatawan perlu didukung dengan kesadaran bersama untuk menjaga kawasan pesisir dan laut.
Harry menilai kelestarian terumbu karang dan biota laut akan menentukan keberlanjutan wisata bahari Sabang dalam jangka panjang. Karena itu, pelaku usaha pariwisata maupun wisatawan perlu ikut menjaga ekosistem saat melakukan aktivitas di laut.
“Ketika ekosistem laut tetap terjaga, wisata bahari juga akan terus memiliki daya tarik. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, pelaku usaha maupun wisatawan,” katanya.
Kendati memiliki kekayaan hayati yang tinggi, ekosistem bawah laut Pulau Weh bukannya tanpa ancaman. Fenomena coral bleaching atau pemutihan karang akibat kenaikan suhu permukaan laut pernah terjadi di kawasan ini.
Selain perubahan kondisi laut, aktivitas manusia seperti sampah, paparan jangkar kapal hingga pemanfaatan ruang laut yang tidak terkendali juga dapat memberikan tekanan terhadap ekosistem.
Sejumlah penelitian menunjukkan terumbu karang Pulau Weh memiliki daya lenting (resilience) untuk memulihkan diri, terutama pada kawasan yang mendapat perlindungan melalui pengelolaan konservasi.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kawasan yang masih memiliki ekosistem sehat. Perlindungan terhadap habitat laut juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan daya dukung kawasan wisata bahari.
Keindahan dan kekayaan hayati bawah laut Sabang menjadi aset yang membutuhkan tata kelola berbasis kelestarian. Kearifan lokal melalui kelembagaan adat Panglima Laot juga memiliki peran dalam menjaga ruang laut dan mengatur pemanfaatan sumber daya pesisir.
Penetapan area larang tangkap (no-take zone) serta pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan ekosistem laut.
Bagi wisatawan dan pelaku industri jasa bahari, penerapan prinsip eco-tourism menjadi semakin penting. Tidak menyentuh karang, tidak memberi makan biota laut (fish feeding) dan menjaga kebersihan pesisir merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Harry mengatakan pariwisata yang berkelanjutan harus mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata dan kelestarian alam.
Menurutnya, kekayaan bawah laut Pulau Weh bukan sekadar objek wisata, tetapi juga sumber daya yang harus dipertahankan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....