Sejarah Tugu Pemancungan Batee Shok, Simpan Jejak Kelam Pendudukan Jepang

  • 30 Apr 2026 17:39 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Tugu Pemancungan di Gampong Batee Shok, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, menjadi saksi bisu peristiwa kelam masa pendudukan Jepang tahun 1944. Monumen yang berada di kawasan perkebunan warga ini dibangun pemerintah sebagai penanda sejarah eksekusi yang pernah terjadi di lokasi tersebut.

Pemerhati sejarah Sabang, Albina Arrahman, menjelaskan tugu tersebut memiliki nilai penting sebagai pengingat peristiwa masa lalu. Ia menyebut, meski berada di lokasi yang relatif sepi, keberadaannya tetap menyimpan cerita sejarah yang kuat.

“Peristiwa ini terjadi pada masa pendudukan Jepang tahun 1944, ketika sejumlah orang yang dianggap melawan dieksekusi di lokasi ini. Korban tidak hanya tentara Belanda, tetapi juga warga sipil, termasuk seorang dokter bernama dr. Coelon,” ujar Albina, Kamis 30 April 2026.

Tugu dengan tinggi sekitar 3 meter dan luas 5 meter persegi itu berdiri di area yang dulunya menjadi tempat eksekusi mati. Sebanyak 21 orang tercatat menjadi korban pemancungan, yang awalnya dimakamkan terpisah sebelum akhirnya disatukan dalam satu liang di kompleks tersebut.

Sementara itu, pemilik kebun di sekitar lokasi, Jamal, mengungkapkan kondisi tugu saat ini kurang mendapat perhatian. Ia menilai sebagai situs sejarah, keberadaan tugu masih minim informasi dan fasilitas pendukung.

“Pengunjung yang datang masih sangat sedikit karena hanya ada papan petunjuk di tepi jalan tanpa informasi yang memadai di lokasi. Padahal ini situs penting yang bisa menjadi wisata sejarah jika dikelola dengan baik,” kata Jamal.

Ia berharap, pemerintah dapat melakukan perbaikan dan penataan kawasan agar lebih layak dan menarik untuk dikunjungi. Dengan pengelolaan yang tepat, Tugu Pemancungan Batee Shok diharapkan tidak hanya menjadi monumen, tetapi juga sumber edukasi sejarah bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....