Memutus Rantai Patriarki dan Pelecehan di Dunia Kerja

  • 24 Jan 2026 12:45 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Menciptakan ruang kerja yang tidak hanya produktif, tapi juga aman, terutama bagi perempuan. Isu pelecehan seksual dan dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Di ruang kerja sangat mungkin terjadi kekerasan berbasis gender, baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan lainnya.

Direktur Eksekutif Flower Aceh Ketua Komisi Kesetaraan Konferensi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Aceh , Riswati, S.Pd.I., M.Si mengatakan bahwa hal ini dipengaruhi oleh sistem patriarki yang cenderung meremehkan kompetensi perempuan.

“Apalagi dipengaruhi oleh persepsi atau budaya patriarki, seakan-akan perempuan harusnya melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, tidak boleh melakukan pekerjaan publik. Dan ini mempengaruhi terhadap penilaian kinerja perempuan, akses dalam pekerjaan, serta partisipasi dalam pekerjaan,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Senin (12/1/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Konselor Puspaga Kota Banda Aceh, Maria Ulfa, S.Psi., M.Psi., P.hd mengatakan dampak dari pelecehan dapat menyebabkan demotivasi kerja. “Dampak psikologis secara umum terjadinya penurunan semangat kerja, bahkan efek terburuk ia akan menarik diri dari lingkungan kerjanya dan malas-malasan,” ungkapnya.

Ia melihat masih banyak pelecehan verbal yang masih dinormalisasi, seperti catcalling (bersiul atau menggoda) masih dianggap sebagai candaan biasa, padahal itu termasuk bentuk kekerasan verbal. Menurutnya, harusnya, setiap lembaga sudah punya SOP terkait do’s and don’ts terhadap karyawan yang terkait dengan gender, baik laki-laki dan perempuan. Batasan ini perlu dilakukan agar setiap karyawan teredukasi dan memahami konsekuensinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....