Mengenal Aneka Jenis Rapai di Aceh

  • 06 Agt 2024 01:29 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Rapa'i merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Aceh. Menurut sejarah dan kepercayaan masyarakat Aceh, alat musik ini diciptakan oleh Syekh Ahmad bin Rifa'i yang merupakan pendiri tarikat Rifa'iyyah. Rapai biasanya dipukul atau ditabuh menggunakan tangan kosong, tidak menggunakan stik.

Rapai berperan untuk mengatur ritme, tempo, gemerincing saat lantunan syair-syair bernuansa Islami sedang dinyanyikan. Suara rapai dapat membuat suasana lebih hidup, semarak dan bisa menumbuhkan semangat penonton yang sedang menyaksikan suatu pertunjukan. Rapai ini juga digunakan hampir semua seni tarik suara tradisional di Aceh.

Seiring perjalanan waktu dan dinamika yang terjadi di Aceh, seni Rapai mengalami banyak perkembangan dan model, antara lain sebagai berikut:

· Rapai Geleng

Tarian rapai geleng (Foto: bandaacehkota.go.id)

Rapai Geleng merupakan seni pertunjukan dalam wujud tarian sebagai rasa syukur atas keberhasilan dan kemakmuran. Dilansir dari laman djkn.kemenkeu, fungsi dari tarian rapai geleng adalah syiar agama, menanamkan nilai moral dan menjelaskan tentang hidup dalam warga sosial. Tarian ini dibuat sebagai sarana dakwah yang mempunyai kekuatan untuk menarik minat penonton. Rapai Geleng lahir dan dikembangkan di wilayah Aceh Barat Daya. Rapai ini berasal dari dalail khairat yang kemudian bertransformasi menjadi rateb geleng yang terakhir menjadi dalam wujud tari Rapai Geleng.

· Rapai Pasee

Rapai Pasee (Foto: antara.com)

Rapai Pasee merupakan alat musik yang dimiliki oleh masyarakat Aceh, khususnya pada masyarakat Aceh pesisir. Istilah Pasee adalah sebutan terhadap daerah Pasai, desa yang terletak di kecamatan Bayu Kabupaten Aceh Utara. Dikutip dari laman resmi kemendikbud, Rapa’i sendiri pada awalnya di gunakan sebagai daya tarik untuk mengumpulkan massa. Melalui pola-pola ritmis yang di hasilkannya. Setelah massa berkumpul, rapa’i akan tetap di mainkan dengan memasukkan nyanyian yang berisi ayat-ayat suci yang terkandung dalam Al-Qur’an. Namun, pertunjukkan yang ditampilkan oleh Rapai Pasee sangat terbatas karena ukuran gendang yang sangat besar, karena ukurannya yang besar, biasanya rapai ini digantung. Sehingga mempersulit para pemain untuk melakukan atraksi, maka lahirlah jenis rapai lainnya yang berukuran kecil dan atraktif bagi pemainnya.

· Rapai Uroh

Rapai Uroh (Foto: kemendikbud.go.id)

Dikutip dari laman kemendikbud, Rapai Uroeh merupakan seni tradisional masyarakat Aceh yang lahir di wilayah Aceh Utara dan berkembang di pesisir timur Aceh. Rapai Uroeh menampilkan permainan memukul rapai yang dimainkan secara berkelompok, sekurang-kurangnya terdiri dari dua belas orang penabuh rapai dan satu orang khali. Uroeh diartikan sebagai pertandingan sehingga permainan atau pertunjukan Rapai Uroeh merupakan pertunjunkan pertandinagn diantara dua kelompok (biasanya dari dua kampung yang berbeda) yang saling berhadap-hadapan memainkan penampilan terbaiknya.

· Rapai Daboih

Rapai Daboih (Foto: youtube irwan mulia)

Kesenian tradisional ini hampir dimiliki oleh setiap Kecamatan di Aceh Selatan. Rapai Daboih merupakan gabungan antara seni, agama dan ilmu metafisik (ilmu kebal). Kelompok kesenian ini mempunyai pemain minimal 10 orang yang dipimpin oleh seorang yang biasa disebut khalifah. Kesenian ini menggunakan alat musik yang disebut dengan rapa’i (gendang yang terbuat dari kulit kambing). Umumnya melagukan syair-syair dan zikir dan pujian kepada Allah Sang Pencipta dan kepada Rasulullah SAW sesuai dengan ajaran Islam. (Disadur dari laman resmi acehprov.go.id)

· Rapai Geurimpheng

Rapai Geurimpheng (Foto: kemendikbud.go.id)

Rapa'i Geurimphéng adalah suatu kesenian yang menggabungkan antara permainan alat musik rapa'i dan kemampuan bersyair. Bersumber dari Wikipedia, Rapa'i merupakan alat musik tradisional yang mirip dengan rebana namun memiliki ukuran lebih besar. Saat dimainkan, rapa'i diletakkan di kaki karena sangat berat untuk diangkat. Penyairan dipimpin oleh syeh dan dinyanyikan ulang oleh pemain lainnya. Diperlukan 12 orang untuk memainkan alat musik ini. 8 orang yang disebut aneuk pulôt berfungsi sebagai penabuh dan penari, 3 orang sebagai pengiring dan satu orang sebagai penyair yang disebut syahi atau syèh. Rapai geurimpheng merupakan keselarasan antara tabuhan musik rapai dengan gerakan tarian yang penuh energi. Jenis kesenian tradisional Aceh ini biasanya berkembang pada masyarakat pesisir timur Aceh.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....