Peusijuk, Tradisi Warisan Leluhur Masyarakat Aceh
- 30 Apr 2024 19:05 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Dalam kehidupan masyarakat Aceh, Tradisi Peusijuek disebut juga “Tepung tawar”. Tradisi ini adalah prosesi adat yang merupakan warisan leluhur dalam kebudayaan masyarakat Aceh.
Kata Peusijuek diambil dari kata “sijeuk”, yang dalam bahasa Aceh berarti dingin atau sejuk. Kata ini mengandung makna bahwa dengan mengadakan peusijuek diharapkan akan memperoleh berkah, anugerah, atau berada dalam keadaan yang baik.Pada masyarakat Aceh tradisi ini dianggap upacara tradisional untuk memohon keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan dari Sang Pencipta.
Hampir seluruh kegiatan dalam Adat Aceh melaksanakan tradisi peusijuek. Baik berupa acara pernikahan, khitanan, diawal memulai pertanian, memiliki rumah atau kendaraan baru, perselisihan, pemasangan batu nisan bagi yang telah meninggal dan rangkaian peusijuek lainnya yang sering dilaksanakan oleh masyarakat dalam kehidupannya.
Dalam prosesi ini biasanya akan dimulai dengan bacaan Basmallah, Sholawat Nabi dan Doa Selamat, dalam pelaksanaannya menghadirkan seorang Tengku (ulama) atau orang yang dituakan (Majelis adat) sebagai pemimpin upacara. Hal ini dilakukan karena dianggappeusijuek yang dilakukan untuk memperoleh keberkatan dan setelah selesai diiringi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Tengku untuk mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT.
Menurut Ketua Majelis Adat Aceh Kota Sabang Tgk.Sulaiman Daud, ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan prosesi peusijuek yang memiliki makna dan filosofinya tersendiri.
Bahan yang paling utama adalah teupong taweue (tepung tawar dan air) yang bermakna untuk mendinginkan dan membersihkan yang di peusijuek, beras padi yang melambangkan kemakmuran, Oen sijuk juk (daun cocor bebek), Oen manek mano dan naleung samboe (sejenis rumput) diikat menjadi satu yang melambangkan hubungan yang dapat terjalin dengan baik dalam masyarakat.
Bulukat (Ketan kuning), makna dari ketan ini adalah mengandung zat perekat, sehingga jiwa raga yang di peusijuek tetap berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Warna kuning dari ketan merupakan lambang kejayaan dan kemakmuran.
“Peusijuek dalam masyarakat Aceh, berasal dari sejak zaman Rasulullah SAW, ketika Rasul mempeusijuek Tuan Fatimah dengan Saydina Ali. Kemudian saat pulang dari perang, Rasulullah pernah mempeusijuek para pahlawan Islam pada waktu itu. Namun, yang harus kita perhatikan adalah bahan yang kita gunakan berbeda dengan apa yang digunakan oleh Rasul pada zamannya. Rasulullah berpesan, peusijuk menggunakan bahan yang bisa menjadi Tafa’ul atau seumpeuna (tanda baik), walaupun kita lihat saat ini, berbeda bahan yang digunakan, tetapi mempunyai manfaat atau makna yang baik dalam kehidupan, seperti Breuh Padee, Bulukat kuneng, oen sijuk juk, manek mano dan naleung samboe," kata Tgk.Sulaiman, Selasa (30/04/2024).
Ditengah pesatnya perkembangan zaman, kearifan lokal masyarakat aceh dalam tradisi peusijuek saat ini masih terus dilestarikan agar tidak terkikis oleh modernisasi. Diharapkan generasi muda di Aceh dapat mencintai dan melestarikan tradisi warisan leluhur ini agar tidak lenyap ditelan perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....