Kasus HIV/AIDS Meningkat, Kader Remaja Diminta Perkuat Edukasi

  • 30 Sep 2026 22:31 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, meminta kader remaja Posyandu memperkuat peran sebagai edukator sebaya dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Menurutnya, kader remaja memiliki posisi strategis untuk menyampaikan informasi kesehatan yang benar kepada teman sebaya hingga masyarakat di lingkungan gampong.

Permintaan itu disampaikan Farid saat membuka kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi kesehatan bagi remaja bertema Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS di salah satu cafe di Banda Aceh. Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tersebut berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, dan diikuti 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.

Farid mengatakan keterlibatan remaja dalam edukasi HIV/AIDS penting karena generasi muda merupakan kelompok yang perlu mendapatkan pemahaman sejak dini mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku berisiko. Ia meminta kader tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut menjadi penghubung antara layanan kesehatan, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid, Rabu 30 September 2026.

Ia menyebut data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menunjukkan HIV/AIDS masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data yang disampaikannya, pada 2008 tercatat 10 kasus, terdiri atas sembilan kasus HIV dan satu AIDS, kemudian meningkat menjadi 36 kasus pada 2018.

Pada 2024, jumlah kasus yang tercatat mencapai 147 kasus, terdiri atas 104 HIV dan 43 AIDS. Sementara hingga Agustus 2026, tercatat 68 kasus baru yang terdiri atas 49 HIV dan 19 AIDS.

Secara kumulatif, Farid menyebut sejak 2008 hingga 2026 telah tercatat 942 kasus HIV/AIDS di Banda Aceh. Jumlah tersebut terdiri atas 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS.

“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus,” kata Farid.

Menurut Farid, data tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat edukasi kesehatan di kalangan remaja, terutama mengenai faktor risiko, pencegahan penularan, dan penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Edukasi, kata dia, harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat melalui informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami, bukan dengan cara menakut-nakuti.

Farid mengajak kader memahami tiga hal utama dalam pencegahan HIV/AIDS, yakni mengenali risiko, mencegah penularan, dan menghilangkan stigma. Pengetahuan tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi remaja agar mampu membedakan perilaku yang berisiko dan tidak berisiko terhadap penularan HIV.

“Pengetahuan merupakan benteng pertama dalam mencegah penularan HIV. Untuk itu kami meminta para kader meneruskan informasi yang diperoleh selama pelatihan kepada teman sebaya setelah kembali ke gampong masing-masing," pintanya.

Farid bahkan meminta setiap peserta menyampaikan edukasi kepada sedikitnya 10 teman mengenai bahaya dan cara pencegahan HIV/AIDS. Selain menjadi penyampai informasi, kader juga diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan pola hidup sehat serta menjauhi rokok, vape, NAPZA, dan berbagai perilaku berisiko.

Ia juga mendorong kader membantu pemerintah gampong dan Posyandu dalam mendata sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS. Menurutnya, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan bersama agar informasi kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Farid turut menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap ODHA karena perlakuan diskriminatif dapat membuat seseorang enggan mengakses pengobatan dan layanan kesehatan. “Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat nasihat dari Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi, serta materi dari drg. Supriayadi R, M.Kes., dari Dinas Kesehatan Banda Aceh mengenai Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS. Materi Hidup Sehat Bebas HIV/AIDS disampaikan dr. Cut Nonda Maracilu, Sp.OG., dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....