Seuramoe Heritage Ajak Warga Jelajahi Situs Sejarah Aceh
- 25 Agt 2026 15:58 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Komunitas Seuramoe Heritage mengajak masyarakat mengenal sejarah dan budaya Aceh melalui kegiatan field trip yang dikemas santai, edukatif, dan menyenangkan. Kegiatan ini menjadi upaya mendekatkan sejarah dengan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui pengalaman langsung mengunjungi situs-situs bersejarah.
Sejak Juni 2026, Seuramoe Heritage telah menggelar empat kali field trip dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Banda Aceh. Kegiatan tersebut terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Ketua Tim Pemateri Field Trip Seuramoe Heritage, Wan Santana Aji Chaidesar, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari ketertarikan anggota komunitas terhadap sejarah dan kebiasaan mengunjungi berbagai situs peninggalan masa lalu.
Menurutnya, sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui pembelajaran formal yang terkesan kaku dan membosankan. Karena itu, Seuramoe Heritage mengemas materi sejarah melalui metode storytelling dengan tetap berpedoman pada data dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jadi kita kemasnya, coba bayangkan kalau Pintu Khop ini menjadi pintu sebuah taman. Kita tetap berbasis data, tetapi kita angkat secara romantismenya, sehingga peserta seperti masuk ke dunia masa lalu,” kata Wan Santana Aji dalam Dialog Ngobras RRI Banda Aceh, Selasa 18 Agustus 2026.
Sejumlah lokasi yang telah dikunjungi dalam kegiatan tersebut antara lain Pintu Khop dan Gunongan, kompleks makam Belanda, Taman Sari, Water Toren, Taman Bustanussalatin, Tugu Proklamasi, serta makam dan rumah kediaman Teuku Nyak Arif.
Ketua Inisiator dan Koordinator Seuramoe Heritage, Wahidul, mengatakan Banda Aceh memiliki banyak peninggalan sejarah yang setiap hari dilewati masyarakat, tetapi belum banyak diketahui nilai dan kisah di balik keberadaannya.
Ia mencontohkan Water Toren di kawasan Taman Sari yang pada masa kolonial Belanda menjadi bagian dari sistem penyediaan air di Banda Aceh.
“Orang ratusan kali lewat, bahkan sehari-harinya sampai dua tiga kali, tapi tidak tahu. Ketika kami ceritakan sejarahnya, ternyata teknologinya cukup luar biasa waktu itu,” ujar Wahidul.
Menurut Wahidul, pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat terhadap sejarah sekaligus mendorong kepedulian untuk menjaga situs-situs bersejarah sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya Aceh.
Ia menambahkan, Seuramoe Heritage terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Peserta field trip selama ini berasal dari kalangan dosen, mahasiswa, pelajar, komunitas, hingga keluarga dari luar Banda Aceh.
Ke depan, Seuramoe Heritage berencana memperluas kegiatan ke berbagai situs sejarah di Aceh. Komunitas juga akan mengembangkan konsep wisata yang memadukan sejarah, budaya, kuliner, dan aktivitas luar ruang sehingga pengalaman mengenal sejarah menjadi lebih menarik dan mudah diterima masyarakat.
Informasi mengenai jadwal field trip berikutnya dapat diperoleh melalui media sosial Seuramoe Heritage.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....