Pemulihan Pascabencana Dongkrak Kebutuhan Semen dan Material di Aceh
- 13 Agt 2026 15:53 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Aceh mendorong peningkatan kebutuhan bahan material konstruksi, termasuk semen. Tingginya kebutuhan tersebut seiring dengan pembangunan kembali rumah masyarakat dan berbagai infrastruktur yang terdampak bencana.
General Manager PT Solusi Bangun Andalas (SBA) Aceh, R. Adi Santosa, mengatakan perusahaan terus mengoptimalkan produksi dan distribusi semen untuk mendukung kebutuhan pembangunan pascabencana di Aceh.
Menurut Adi, kebutuhan semen meningkat karena kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan bersamaan dengan berbagai program pembangunan pemerintah serta perbaikan rumah masyarakat.
“Sekarang sudah bisa sampai 1.800 ton per hari keluar,” kata Adi dalam Dialog Banda Aceh Menyapa RRI Banda Aceh, Kamis 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, sebelumnya penyerapan semen di pasar berada pada kisaran 800 hingga 1.000 ton per hari. Seiring meningkatnya kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi, PT SBA mengoptimalkan operasional pabrik untuk memenuhi permintaan tersebut.
Selain meningkatkan produksi, PT SBA juga berkoordinasi dengan perusahaan dalam grup Semen Indonesia untuk memperoleh tambahan pasokan dari sejumlah pabrik di luar Aceh.
Adi menyebutkan, tambahan pasokan antara lain didatangkan dari Padang dan Jawa Barat untuk membantu memenuhi kebutuhan semen di Aceh.
Distribusi semen juga diarahkan agar lebih merata ke berbagai wilayah. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan pasokan di satu daerah, sementara wilayah lain mengalami kekurangan.
“Kami minta teman-teman distributor itu baginya juga rata, supaya kelangkaan itu tidak spot,” ujarnya.
Terkait isu kenaikan harga semen, Adi menegaskan PT SBA tidak merencanakan kenaikan harga semen dari tingkat pabrik untuk wilayah Aceh dan daerah terdampak bencana di Sumatera.
Menurutnya, harga di tingkat konsumen tetap dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan biaya distribusi. Karena itu, perusahaan terus berkoordinasi dengan distributor agar penyaluran semen berjalan lancar dan harga di tingkat konsumen tetap wajar.
Sementara itu, Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Dr. Safrizal ZA, mengatakan kebutuhan material dalam proses pemulihan tidak hanya terbatas pada semen.
Material lain seperti besi, kayu, pasir, batu bata, batako, serta berbagai bahan konstruksi lainnya juga dibutuhkan dalam jumlah besar.
Safrizal mencontohkan, pembangunan sekitar 28 ribu unit rumah masyarakat membutuhkan dukungan pasokan material yang sangat besar. Karena itu, percepatan pemulihan tidak hanya membutuhkan kesiapan pelaksana pembangunan, tetapi juga dukungan industri material.
“Bukan saja para eksekutor ini yang membangun, produsen bahan material pun harus kerja keras. Industri masyarakat harus hidup,” kata Safrizal.
Menurutnya, tingginya kebutuhan material menjadi peluang bagi pelaku industri lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus ikut berperan dalam proses pemulihan Aceh.
Pemerintah, kata Safrizal, akan mendorong produsen lokal meningkatkan kapasitas produksi serta melaporkan ketersediaan material agar dapat diserap untuk kebutuhan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ia berharap keterlibatan dunia usaha dan industri lokal tidak hanya mempercepat pembangunan kembali wilayah terdampak bencana, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Aceh.
“Ini peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kebutuhan material konstruksi, pemerintah mendorong seluruh rantai pasok, mulai dari produsen, distributor hingga pelaksana pembangunan, menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi. Langkah tersebut dinilai penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan merata di seluruh Aceh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....