532 Dayah Terdampak Banjir, Rehabilitasi Baru Capai Tahap Awal

  • 31 Jul 2026 22:47 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pemerintah Aceh mulai merehabilitasi ratusan dayah yang rusak akibat banjir besar. Dari 532 dayah terdampak di berbagai kabupaten dan kota, proses pembangunan masih berada pada tahap awal dengan progres sekitar 10 persen.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, mengatakan pendataan dan verifikasi kerusakan telah dilakukan. Kerusakan meliputi ruang belajar, asrama santri, balai pengajian, dapur, tempat wudu, serta fasilitas pendukung lainnya.

“Yang paling banyak terdampak berada di Kabupaten Aceh Tamiang. Seluruh data dayah yang mengalami kerusakan sudah kita usulkan untuk mendapatkan penanganan sesuai tingkat kerusakannya,” kata Muhsin, Kamis 30 Juli 2026.

Menurutnya, sebagian dayah mengalami kerusakan ringan dan membutuhkan rehabilitasi sederhana. Sementara sejumlah bangunan mengalami kerusakan sedang hingga berat sehingga memerlukan pembangunan kembali.

Muhsin mengatakan rehabilitasi mulai berjalan pada 2026 melalui dukungan anggaran dari pokok-pokok pikiran anggota dewan. Keterbatasan anggaran membuat penanganan belum dapat dilakukan secara bersamaan di seluruh dayah terdampak.

“Untuk saat ini masih tahap awal pembangunan. Rata-rata progresnya baru sekitar 10 persen karena memang baru dimulai. Kami berharap pekerjaan terus berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan,” ujarnya.

Pemerintah Aceh menerapkan skala prioritas dalam proses rehabilitasi. Tingkat kerusakan bangunan dan jumlah santri terdampak menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi yang lebih dahulu ditangani.

Penyelesaian rehabilitasi seluruh dayah ditargetkan berlangsung secara bertahap pada 2027 hingga 2029. Pemerintah Aceh juga mengupayakan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Agama.

“Tidak semua dayah yang terdampak bisa diperbaiki sekaligus. Karena itu, penanganan dilakukan secara bertahap. Target kami pada 2027 sampai 2029 seluruhnya sudah dapat ditangani,” kata Muhsin.

Di tengah proses pembangunan, Dinas Pendidikan Dayah Aceh berkoordinasi dengan pimpinan dayah agar pendidikan santri tetap berlangsung. Sejumlah santri ditempatkan sementara di dayah lain yang tidak terdampak banjir.

Menurut Muhsin, hingga kini santri belum kembali ke dayah asal karena proses rehabilitasi masih berjalan. Penempatan sementara dilakukan agar kegiatan belajar tidak terhenti akibat kerusakan fasilitas pendidikan.

“Hingga sekarang belum ada santri yang kembali ke dayah masing-masing karena rehabilitasi masih berjalan. Kami berharap setelah pembangunan selesai mereka dapat kembali belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Selain memperbaiki infrastruktur, pemerintah juga menyalurkan bantuan kebutuhan dasar dan perlengkapan belajar. Bantuan meliputi mukena, kain sarung, sajadah, peci, pakaian, serta kebutuhan pendukung lainnya.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan kitab pelajaran bagi santri dan dayah yang kehilangan bahan belajar akibat banjir. Sejumlah kitab dilaporkan hanyut atau rusak setelah terendam air.

“Kitab-kitab mereka banyak yang hilang saat bencana. Insya Allah tahun ini kami juga akan membantu penyediaan kitab-kitab untuk mereka belajar,” kata Muhsin.

Pemulihan dayah diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi bangunan, tetapi juga menjamin keberlanjutan pendidikan ribuan santri. Dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat dinilai penting untuk mempercepat proses rehabilitasi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....