USK: Eco Anxiety akibat Krisis Iklim Perlu Jadi Perhatian Serius
- 24 Jun 2026 16:29 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Dampak krisis iklim terhadap kesehatan mental generasi muda dinilai masih belum mendapat perhatian yang memadai. Padahal, fenomena eco anxiety atau kecemasan akibat perubahan iklim semakin dirasakan oleh Generasi Z, termasuk di Aceh.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, mengatakan pembahasan mengenai krisis iklim selama ini lebih banyak berfokus pada upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan. Sementara itu, dampaknya terhadap kesehatan mental masih relatif minim mendapat perhatian dalam kajian maupun kebijakan.
"Masih sedikit sekali studi yang membahas bagaimana strategi kita memitigasi dampak krisis iklim dari sisi kesehatan, terutama kesehatan mental," ujar Rina dalam Dialog Green Radio RRI Banda Aceh, Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Rina, isu eco anxiety perlu menjadi perhatian serius karena Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap berbagai bencana alam yang semakin sering terjadi sebagai dampak perubahan iklim.
"Eco anxiety ini dirasakan secara nyata oleh Gen Z, tetapi perhatian terhadap isu ini masih sangat kurang. Padahal, ini merupakan persoalan kesehatan mental yang perlu mendapatkan perhatian serius," katanya.
Ia menilai inovasi BioJustice AI yang dikembangkan mahasiswa USK menjadi terobosan yang menarik karena mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), nilai-nilai Islam, kesehatan mental, dan isu perubahan iklim dalam satu kerangka konseptual.
"Inovasi yang dibuat Untung dan Rizka cukup inovatif karena menggabungkan pendekatan Islam, pemanfaatan AI, kondisi krisis iklim, dan dampaknya terhadap kesehatan mental menjadi sebuah kerangka konseptual yang utuh," ujarnya.
Rina menegaskan upaya pendampingan psikologis harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi iklim. Menurutnya, masyarakat perlu membangun ketangguhan iklim (climate resilience) agar tidak terjebak dalam rasa cemas berkepanjangan terhadap dampak perubahan iklim.
"Dari rasa cemas terhadap dampak perubahan iklim, kita perlu menggesernya menjadi narasi yang lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim tidak bisa kita cegah sepenuhnya, tetapi kita dapat melakukan mitigasi dan adaptasi," katanya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim, USK mewajibkan seluruh mahasiswa mengikuti mata kuliah kebencanaan dan lingkungan. Melalui kebijakan tersebut, kampus berharap lahir lebih banyak agen perubahan yang mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi krisis iklim, termasuk dari aspek kesehatan mental.
Rina juga berharap semakin banyak penelitian dan inovasi yang lahir untuk membantu masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim secara lebih komprehensif, termasuk dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....