Inspirasi dari Lombok untuk Menyelamatkan Laut Aceh
- 24 Mei 2026 15:25 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Lautan yang mencakup 70% dari seluruh permukaan bumi, di dalamnya terdapat berbagai biota laut yang menjadi penghasil pangan dan juga penghasil oksigen. Namun, sampai tahun 2024, kondisi terumbu karang dan biota laut lain degradasi sekitar 40 persen terjadi di Kawasan Lombok.
“Hasil monitoring Yayasan Sorce tahun 2023 sampai 2024, diketahui sekitar 40 persen terumbu karang di Kawasan konservasi Gitanda, Lombok Barat, mengalami kerusakan. Selain itu, hutan mangrove di kawasana Sekotong mengalami deforestasi sekitar 100 hektar per tahun,” ujar Raja Aditya Sahala Siagian, S.Si.,M.Si., selaku Marine Conservation Scientist Yayasan SORCE Konservasi Indonesia, dalam dialog bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Sabtu 25 April 2026.
Ada beragam faktor yang menyebabkan kerusakan terumbu karang ini, seperti faktor alam yang dipicu oleh gempa bumi, badai, angin kecang, hingga dampak dari perubahan iklim berupa kenaikan suhu air laut.
Selain itu aktivitas manusia juga bersampak pada terumbu karang. Misalnya penggunaan bom ikan, pembuangan jangkar perahu yang sembarangan, masalah sampah, serta aktivitas wisata yang tidak teredukasi, seperti wisatawan yang menginjak terumbu karang saat snorkeling. Kemudian efek domino kerusakan mangrove yang menyebabkan hilangnya filter air alami, sehingga air laut keruh dan menghambat fotosintesis terumbu karang.
Menghadapi kerusakan tersebut, Yayasan SORCE melakukan beberapa metode restorasi, seperti metode pembibitan karang, serta media artifisial permanen, yang terbukti sukses dengan tingkat kelangsungan hidup 90 hingga 95 persen.
Selain itu juga dilakukan restorasi mangrove, yang dilakukan di area yang dijangkau oleh pasang surut air laut. Hal ini untuk memanfaatkan mekanisme alam, saat air pasang, bibit mendapatkan air, dan saat surut, bibit mangrove mendapatkan oksigen. Kemudian setelah berusia sekitar 6 bulan, bibit mangrove siap dipindahkan ke lahan kritis yang mengalami deforestasi.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa meskipun model restorasi ini dilakukan di Lombok, konsep ini sangat mungkin diadaptasi di walayah pesisir lain di Indonesia, termasuk Aceh. Bahkan menurutnya, Aceh memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Lombok, yaitu adanya lembaga adat Panglima laot. Tinggal bagaimana pemerintah mampu merangkul Panglima laot, NGO, akademisi, dan masyakat untuk sama-sama melestarikan lingkungan laut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....