Prof. Nuna: Higienitas Kurban Penting untuk Lindungi Kesehatan Masyarakat

  • 26 Mei 2026 21:07 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. drh. Nurliana, M.Si., atau yang akrab disapa Prof. Nuna, menegaskan pentingnya penerapan higienitas dan sanitasi dalam pelaksanaan kurban Idul Adha 1447 Hijriah.

Menurutnya, proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban harus dilakukan secara benar agar kualitas daging tetap terjaga, aman dikonsumsi, dan tidak menimbulkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

“Jika proses pemotongan dan distribusi berlangsung terlalu lama tanpa penanganan yang baik, daging bisa berubah warna dan menimbulkan bau. Karena itu, masyarakat dianjurkan segera mengolah daging yang diterima,” ujar Prof. Nuna dalam Dialog Banda Aceh Menyapa di Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin, 18 Mei 2026.

Ia menjelaskan, penerapan higienitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan hewan kurban, tetapi juga mencakup kebersihan lokasi penyembelihan, peralatan yang digunakan, hingga pengelolaan limbah pascapemotongan.

Prof. Nuna mengatakan limbah seperti darah, feses, dan urin hewan kurban harus ditangani dengan baik agar tidak mencemari lingkungan maupun sumber air warga.

“Limbah jangan dibuang sembarangan karena dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan panitia kurban agar memberikan waktu istirahat yang cukup bagi hewan sebelum disembelih, terutama hewan yang didatangkan dari luar daerah setelah menempuh perjalanan jauh.

“Jika hewan datang dari daerah jauh, sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu selama enam hingga dua belas jam sebelum dipotong agar kondisi hewan kembali stabil,” ujarnya.

Prof. Nuna juga menekankan pentingnya proses penyembelihan yang sesuai syariat Islam dengan tetap memperhatikan kesejahteraan hewan serta kompetensi juru sembelih halal.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat dan panitia kurban terus dilakukan agar pelaksanaan kurban di Aceh semakin memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, dan halal atau ASUH.

“Kami ingin masyarakat semakin sadar bahwa kesehatan hewan sangat penting dan daging yang dikonsumsi harus benar-benar aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya.

Ia berharap pelaksanaan kurban tahun ini tidak hanya memenuhi nilai ibadah, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan pangan dan kesehatan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....