Kurban Sehat dan Tepat Sasaran Jadi Fokus Idul Adha 2026 di Aceh

  • 24 Mei 2026 07:10 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Dinas Peternakan Aceh memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Idul Adha 1447 Hijriah guna memastikan hewan yang dikurbankan sehat, aman dikonsumsi, dan sesuai syariat.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan Aceh, drh. Ruhaty, mengatakan pihaknya bersama Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala akan menurunkan tim pengawasan ke sejumlah lokasi pemotongan kurban di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Petugas kami setiap hari melakukan pemantauan di lapangan. Masyarakat juga dapat meminta pemeriksaan kesehatan hewan melalui puskeswan di masing-masing daerah,” kata Ruhaty dalam Dialog Banda Aceh Menyapa di Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin 18 Mei 2026.

Menurut Ruhaty, masyarakat perlu memperhatikan kondisi fisik hewan sebelum membeli. Hewan kurban harus dalam kondisi sehat, tidak kurus, tidak cacat, serta bebas dari penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD).

Ia menjelaskan, tanda hewan yang tidak layak dikurbankan di antaranya terdapat benjolan pada kulit, luka pada kuku, serta leleran berlebihan pada hidung.

Selain pengawasan di tingkat daerah, Dinas Peternakan Aceh juga memperketat lalu lintas ternak melalui empat checkpoint di Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Singkil untuk mencegah masuknya hewan yang terjangkit penyakit.

“Setiap ternak yang masuk ke Aceh tetap diperiksa kesehatannya oleh petugas di checkpoint,” ujarnya.

Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. drh. Nurliana, M.Si., menekankan pentingnya higienitas dan sanitasi dalam proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban.

Menurutnya, proses kurban yang tidak higienis dapat memengaruhi kualitas daging dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Jika proses pemotongan dan distribusi berlangsung terlalu lama tanpa penanganan yang baik, daging bisa berubah warna dan menimbulkan bau. Karena itu, masyarakat dianjurkan segera mengolah daging yang diterima,” katanya.

Ia juga mengingatkan panitia kurban agar memperhatikan pengelolaan limbah seperti darah, kotoran, dan sisa pemotongan supaya tidak mencemari lingkungan maupun memicu penyebaran penyakit.

“Limbah jangan dibuang sembarangan karena dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Panitia Green Kurban Rumah Amal Masjid Jami Universitas Syiah Kuala, Dr. Nurse Budi Satria, S.Kep., MNS., mengatakan pihaknya mengembangkan konsep “green kurban” yang ramah lingkungan sekaligus mendukung distribusi daging bagi masyarakat terdampak bencana.

Konsep tersebut menggunakan pembungkus ramah lingkungan berbahan daun jati dan mengurangi penggunaan plastik dalam pendistribusian daging.

“Green kurban ini mengusung konsep sehat, halal, aman, tepat sasaran, dan ramah lingkungan,” katanya.

Program tersebut juga melibatkan peternak lokal Aceh untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus memastikan kualitas hewan kurban tetap terjaga.

Budi menambahkan, distribusi daging dilakukan menggunakan sistem kupon agar penyaluran lebih tepat sasaran dan tidak terjadi penerimaan ganda di masyarakat terdampak.

“Kami fokus membantu wilayah terdampak dan memastikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat menerima daging kurban,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....