Orang Tua Diminta Selektif Memilih Lembaga Pendidikan Ramah Anak
- 15 Mei 2026 14:29 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Orang tua diminta lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan dan pengasuhan anak usia dini guna memastikan tumbuh kembang anak berlangsung aman, nyaman, dan sehat secara emosional. Legalitas lembaga, kualitas pengasuh, hingga lingkungan belajar menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Ketua HIMPAUDI Kota Banda Aceh, Ida Yanti, mengatakan lembaga pendidikan yang memiliki legalitas resmi umumnya telah memenuhi standar pengasuhan, memiliki program kerja yang jelas, serta berada dalam pengawasan pemerintah.
“Yang pertama sekali adalah legalitasnya. Karena kalau sudah ada legalitas tentu saja pengawasan dan hal-hal yang dilakukan sudah berdasarkan verifikasi,” kata Ida Yanti dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh, Senin, 11 Mei 2026.
Menurutnya, orang tua juga perlu memperhatikan rasio pengasuh dengan jumlah anak di lembaga penitipan maupun PAUD. Hal itu penting agar setiap anak memperoleh perhatian yang optimal sesuai tahap usianya.
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan pemerintah, rasio ideal pengasuhan untuk bayi adalah satu pengasuh untuk satu anak. Sementara untuk anak usia enam hingga 12 bulan satu pengasuh mendampingi dua anak, dan usia 12 hingga 24 bulan satu pengasuh mendampingi tiga anak.
“Kalau bayi satu banding satu itu idealnya. Karena kita melihat sendiri sebagai orang tua saja repot, apalagi di sekolah yang anaknya tentu saja bukan satu,” ujarnya.
Selain itu, Ida Yanti menegaskan pentingnya memastikan pengasuh memiliki kompetensi dan sertifikasi yang sesuai. Menurutnya, pengasuh yang tidak berasal dari latar belakang pendidikan anak usia dini tetap harus mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikasi resmi yang diakui pemerintah.
“Kadang lembaga-lembaga yang belum legal mengabaikan hal tersebut. Mereka harus tersertifikasi oleh lembaga yang diakui pemerintah untuk pengasuhan,” katanya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Muhammadiyah Aceh sekaligus Psikolog Puspaga Kota Banda Aceh, Hanna Amalia, mengatakan lingkungan pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak.
Menurut Hanna, rasa aman yang diperoleh anak dari lingkungan sekolah maupun pengasuh akan membantu membentuk rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan sosial anak di masa depan.
“Ketika anak merasa aman, di situlah dia terbentuk emosi-emosi yang positif. Anak jadi berani mengeksplorasi, tumbuh rasa percaya diri dan kemandiriannya,” ujar Hanna.
Sebaliknya, kata dia, lingkungan yang tidak aman dapat membuat anak menjadi penakut bahkan agresif karena merasa terancam. Kondisi tersebut juga berdampak pada kemampuan anak dalam mengenali dan mengelola emosinya.
Hanna menambahkan, orang tua dapat mengenali apakah anak merasa nyaman di lingkungan sekolah melalui perubahan perilaku sehari-hari. Anak yang merasa aman biasanya lebih ceria, mudah beradaptasi, dan aktif bercerita setelah pulang sekolah.
“Kalau ada perubahan perilaku yang tidak semestinya, misalnya tiba-tiba jadi pemurung atau takut berlebihan, itu harus diwaspadai orang tua,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ida Yanti juga mengingatkan pentingnya transparansi lembaga pendidikan kepada orang tua. Menurutnya, lembaga yang baik tidak membatasi akses komunikasi maupun informasi terkait aktivitas anak selama berada di lingkungan sekolah.
“Orang tua juga harus melihat lingkungan bermainnya, program kerjanya, sampai komunikasi sekolah dengan orang tua. Itu penting untuk memastikan anak benar-benar aman dan nyaman,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....