Ketua DPRK: Ramadan Momentum Rawat Kearifan Lokal

  • 25 Feb 2026 03:07 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, RRI.CO.ID, Sabang – Suasana sore Ramadan di kawasan simpang Garuda Kota Sabang terasa hangat dengan aktivitas warga yang berburu takjil. Di salah satu lapak sederhana, Ketua DPRK Sabang Magdalaina terlihat singgah membeli leumang, kue tradisional khas Aceh yang selalu hadir menjelang waktu berbuka.

Ia tampak berbincang akrab dengan pedagang leumang Suryati, yang sejak awal Ramadan rutin berjualan di lokasi tersebut. Beberapa potong leumang yang masih hangat tersusun rapi di atas nampan,sementara sejumlah pembeli lain ikut mengantre menunggu giliran.

Dalam kesempatan itu, Magdalaina mengatakan leumang memiliki makna lebih dari sekadar hidangan berbuka puasa. Menurutnya, tradisi membuat dan menikmati leumang mencerminkan nilai kebersamaan serta penghormatan terhadap warisan budaya yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Aceh.

“Leumang ini sudah lama menjadi tradisi kita. Di bulan Ramadan kehadirannya selalu dinanti,” kata Magdalaina, Selasa ujarnya kepada awak media, Selasa 24 Februari 2026.

Ia juga membagikan pengalamannya saat pernah berdomisili di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Dikatakan, di daerah tersebut, membakar leumang di depan rumah pada sore hari menjelang berbuka sudah menjadi kebiasaan.

“Dulu waktu saya tinggal di Meulaboh, hampir setiap sore Ramadan orang-orang membakar leumang di depan rumah. Suasananya terasa hangat dan penuh kebersamaan,” katanya.

Kenangan itu, lanjutnya, menjadi pengingat tradisi kuliner lokal tidak hanya soal cita rasa tetapi juga tentang nilai sosial yang mengikat hubungan masyarakat. Ia menilai kebiasaan sederhana seperti membakar leumang bersama keluarga atau tetangga memperkuat rasa persaudaraan dan penuh kebersamaan.

Sementarai itu, sang pedagang Suryati mengaku senang lapaknya disinggahi pimpinan daerah. Ia mengatakan setiap Ramadan permintaan leumang meningkat karena banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi berbuka dengan menu khas Aceh tersebut.

“Alhamdulillah, setiap sore ramai. Banyak yang sudah pesan lebih dulu,” ujarnya.

Leumang dibuat dari beras ketan yang dicampur santan, dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang, lalu dibakar perlahan hingga matang. Proses ini membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak singkat sehingga menghasilkan tekstur pulen dengan aroma khas.

Di tengah arus modernisasi dan menjamurnya kuliner kekinian, leumang tetap berdiri sebagai penanda identitas Aceh. Sore itu, di SP Garuda Sabang, sepotong leumang bukan hanya menjadi menu berbuka, tetapi juga pengikat nilai tradisi, kebersamaan, dan kecintaan terhadap warisan budaya daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....