Leumang, Lebih dari Sekadar Takjil Ramadan di Sabang

  • 23 Feb 2026 13:54 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang- Leumang atau lemang bukan hanya sekadar jajanan yang diburu menjelang berbuka puasa tetapi juga bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Aceh yang telah berlangsung turun-temurun menjelang bulan suci Ramadan.

Menjelang waktu berbuka puasa, aroma bambu terbakar bercampur santan kental menguar di kawasan Simpang Garuda, Kota Sabang. Di lokasi ini, leumang atau lemang kembali hadir sebagai salah satu kuliner khas Aceh yang setia menemani masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Deretan kue leumang itu tersusun rapi di meja dagangan, sementara aroma santan bercampur wangi bambu terbakar menguar dan menarik perhatian para pemburu takjil yang melintas.

Salah seorang pedagang Nurhayati mengatakan Ramadan selalu membawa peningkatan penjualan leumang. Dirinya mengaku setiap hari ia mampu menjual puluhan batang dengan berbagai ukuran.

“Kalau bulan puasa seperti ini, permintaan meningkat. Biasanya orang beli untuk berbuka bersama keluarga,” ujarnya saat ditemui RRI, Senin 23 Februari 2026.

Ia menjelaskan, proses pembuatan leumang membutuhkan waktu cukup lama. Beras ketan direndam terlebih dahulu lalu dicampur santan dan sedikit garam sebelum dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Proses pembakaran memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam agar leumang agar matang merata dan pulen.

Leumang merupakan kudaoan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh terutama saat Ramadan dan Idulfitri. Selain dikonsumsi langsung, leumang juga kerap disantap bersama tapai ketan hitam atau durian saat musimnya tiba. Di sejumlah daerah Aceh, leumang bahkan identik dengan tradisi menyambut bulan puasa dimana keluarga dan bahkan sesekali tetangga berkumpul sambil menyiapkan makanan khas secara bersama-sama.

Seorang pembeli Rahmad mengaku sengaja datang ke Simpang Garuda untuk membeli leumang sebagai menu berbuka puasa bersama keluarga. Bagi dirinya, leumang sudah menjadi menu wajib berbuka puasa.

“Rasanya khas, apalagi kalau dimakan dengan tapai. Sudah jadi kebiasaan setiap Ramadan beli leumang,” katanya.

Di tengah menjamurnya aneka takjil modern leumang tetap bertahan sebagai simbol kuliner tradisional yang kuat. Keberadaannya tidak hanya menjadi sumber penghasilan musiman bagi sejumlah pedagang tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan pelestarian budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....