Pesantren Al-Mujaddid Terancam Tutup, Wali Resah
- 08 Des 2025 20:41 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Ratusan wali santri Pesantren Al-Mujaddid Sabang menyampaikan keberatan dan mendesak Pemerintah Kota Sabang segera memberikan kepastian mengenai kelanjutan operasional pesantren tersebut. Para orang tua menyatakan siap turun ke jalan apabila tidak ada keputusan yang jelas, setelah pihak yayasan menyampaikan bahwa Al-Mujaddid untuk sementara menghentikan seluruh kegiatan belajar akibat ketiadaan dana operasional.
Pengawas pendidikan Pesantren Al-Mujaddid, Ade Suryadi, yang hadir dalam pertemuan wali santri, menilai pesantren tersebut mempunyai peran besar dalam pembangunan pendidikan di Sabang. Ia menegaskan harapannya agar kegiatan pendidikan di Al-Mujaddid dapat terus berjalan.
“Pesantren Al-Mujaddid harus tetap ada. Kalau melihat pencapaian yang ada, kualitasnya sangat baik. Termasuk anak saya sendiri alumninya. Pesantren ini tidak bisa dipandang sebelah mata,” ujar Ade Suryadi, didampingi sejumlah wali santri, Senin (8/11/2025).
Ade menyebut pemerintah kota sudah memiliki dasar kerja sama melalui nota kesepahaman yang pernah ditandatangani sehingga semestinya langkah penyelesaian bisa segera diambil. “Sebaiknya ada solusi dari Pemko Sabang. Dalam MoU sudah jelas pembahasan soal dukungan anggaran. Jangan sampai anak-anak kehilangan hak belajar,” tambahnya.
Ia menambahkan, respons para wali santri dalam pertemuan tersebut menunjukkan hampir seluruh orang tua siap menyampaikan aspirasi secara langsung jika tidak ada perkembangan. “Melihat pertemuan tadi, hampir 100 persen wali santri menyatakan siap menyuarakan aspirasi demi kelanjutan pendidikan anak-anak mereka,” lanjutnya.
Wali santri lain, di antaranya Fakri Kamal, Nadia, dan Harianto, mengungkapkan kekhawatiran karena situasi ini terjadi saat tahun pelajaran sedang berjalan. Mereka menyoroti kondisi para santri kelas akhir yang tengah bersiap menghadapi ujian kelulusan semester.
“Orang tua bingung dan terus bertanya. Kalau pesantren berhenti, anak-anak tidak tahu harus pindah kemana. Ini sudah pertengahan tahun ajaran dan waktu sangat terbatas,” ujar mereka.
Para orang tua menilai pemindahan santri ke sekolah umum belum tentu menjadi solusi, terutama karena persoalan administrasi. Sistem pendataan seperti Dapodik sudah terkunci pada semester berjalan sedangkan pesantren menggunakan EMIS sehingga perpindahan siswa berpotensi menyulitkan terutama bagi santri tingkat akhir.
“Dapodik sudah terkunci, nilai semester sudah masuk. Pesantren memakai EMIS. Kalau dipindahkan sekarang, administrasinya bisa tidak sinkron. Ini yang membuat orang tua khawatir,” jelas mereka.
Kekhawatiran terbesar dirasakan santri kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA yang segera menghadapi ujian kelulusan. Ketidakpastian operasional pesantren dinilai dapat menghambat proses penilaian hingga kelulusan mereka.
“Mereka hanya menunggu beberapa bulan menuju ujian. Kalau pesantren tidak berjalan, di mana mereka ujian? Bagaimana dengan nilai mereka? Bagaimana mereka melanjutkan pendidikan?” tutup salah satu perwakilan wali santri.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Kota Sabang menghentikan sementara seluruh kegiatan pendidikan berdasarkan maklumat bernomor 112/YPTMKS/XI/2025 tertanggal 5 Desember 2025. Keputusan tersebut diambil setelah rapat internal pengurus dan Majelis Guru yang menetapkan penghentian operasional akibat ketiadaan dana operasional yang biasanya dibantu oleh Pemko Sabang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....